Aliansi.co,Gorontalo– Presiden Prabowo Subianto menyinggung adanya peserta aksi demonstrasi yang disebut mengaku menerima bayaran Rp200 ribu.
Prabowo mengaku heran karena, berdasarkan cerita yang diterimanya, sebagian peserta bahkan tidak memahami isu yang menjadi alasan mereka turun ke jalan.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).
Prabowo mengatakan dirinya mengetahui adanya pihak-pihak yang diduga membiayai aksi demonstrasi.
Meski demikian, ia menegaskan tidak mempermasalahkan penyampaian aspirasi melalui demonstrasi.
“Saudara-saudara sekalian, hati-hati, lho. Saya kasih peringatan mereka-mereka itu. Saya tahu siapa yang bayar-bayar demo, gua tahu itu. Tapi nggak apa-apa, main demo,” kata Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Ia kemudian menceritakan adanya peserta aksi yang disebut tidak dapat menjelaskan tuntutan demonstrasi saat ditanya.
Menurut Prabowo, mereka justru mengaku datang karena memperoleh imbalan uang.
“Ditanya anak-anak demo, nggak ngerti. Mau demo apa, ya? Hmm. Kami dibayar Rp200 ribu, gitu, kan. Tapi ada. Saya nggak mengerti,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Prabowo juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga kekompakan di tengah persaingan Indonesia dengan negara-negara lain.
Ia mengibaratkan bangsa Indonesia sebagai satu kesebelasan yang tengah bertanding dan membutuhkan dukungan dari para suporternya.
“Negara kita ini lagi bersaing sama banyak negara. Harusnya bangsa ini kompak,” ucap Prabowo.
Menurut dia, kritik terhadap pemerintah tetap diperlukan apabila terdapat kekurangan.
Namun, kritik tersebut sebaiknya disampaikan dengan tujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan pihak yang sedang bekerja.
“Kalau ada yang kurang, teman yang kurang, tim kita lagi main, ya mainnya kurang bagus, ya tetap disuporter. Nanti begitu sudah selesai pertandingan, baru dikoreksi,” kata Prabowo.
Prabowo menilai sikap gemar mencela atau merendahkan pihak sendiri ketika Indonesia sedang menghadapi tantangan justru dapat melemahkan semangat kebangsaan.
“Jangan lagi main bawa bola, salah, goblok. Lagi main di tengah lapangan disorak-sorakin. Teman sendiri, kesebelasan sendiri. Jadi kayaknya kita tuh tidak bangga dengan apa yang dihasilkan oleh bangsa sendiri,” imbuhnya.
