Sabtu, Oktober 17, 2026

Cerita Rano Karno Nahan Pusing Buntut Pernyataan Keliru Dinas Bina Marga

WIB

Aliansi.co, Jakarta- Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengaku sempat dibuat pusing oleh pernyataan keliru Dinas Bina Marga DKI Jakarta terkait anggaran pembongkaran tiang monorel yang disebut mencapai Rp 100 miliar.

Pernyataan tersebut sempat menimbulkan kegaduhan di publik.

Hal itu disampaikan Rano Karno saat memberikan sambutan dalam acara ERP Fusion PAM Jaya di Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026).

Ia menekankan pentingnya kehati-hatian jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menyampaikan informasi ke publik, terutama yang berkaitan dengan anggaran.

Menurut Rano, kesalahan penyampaian informasi bisa berdampak luas dan memicu polemik yang tidak perlu.

“Cuman salah ngomong Bina Marga, ‘anggaran Rp 100 miliar’. Makanya kemarin saya wanti-wanti, yang bukan bagiannya jangan statement. Dibilang anggaran Rp 100 miliar, pusing kita nahan,” kata Rano, dikutip Senin (19/1/2026).

Rano kemudian meluruskan bahwa angka Rp 100 miliar tersebut sama sekali bukan anggaran pembongkaran tiang monorel.

Baca Juga :  Sambut Tamu KTT ASEAN, Satpol PP Jaksel Terjunkan Seluruh Personil, Tim URC Terus Berpatroli

Ia menegaskan, dana itu dialokasikan untuk penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said secara menyeluruh selama satu tahun.

“Rp 100 miliar itu untuk pembenahan Rasuna Said, bukan monorel. Monorel ditebang cuma Rp 254 juta,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Rano juga menceritakan pengalaman unik terkait rencana pembongkaran tiang monorel.

Ia mengaku pernah menerima surat dari komunitas Madura yang menyatakan keinginan untuk terlibat dalam pembongkaran tiang monorel di kawasan HR Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, hingga Senayan, Jakarta Pusat.

Namun, sebelum surat tersebut sempat dibalas, dua tiang monorel justru sudah lebih dulu hilang.

“Mungkin kalau saya cerita enggak percaya. Jadi kita pernah disuratin oleh komunitas Madura ini. Bahwa mereka ingin terlibat di situ (pembongkaran tiang monorel). Belum kita jawab, dua tiang sudah hilang,” ujar Rano.

Baca Juga :  Kasus Korupsi Migrasi Naik Penyidikan, Kejati DKI Geledah Rumah dan Kantor di Jakarta Selatan

Rano menuturkan, rencana pembongkaran tiang monorel sebenarnya telah melalui proses diskusi yang cukup panjang.

Pembahasan tersebut berlangsung sekitar tiga bulan sebelum akhirnya dilakukan eksekusi.

Ia mengaku sempat berdiskusi dengan sejumlah pihak terkait kelanjutan proyek monorel yang mangkrak selama lebih dari dua dekade tersebut.

Menurutnya, pembongkaran menjadi pilihan paling realistis.

“Ya sampai kemarin, maaf ya, kemarin kita menebang apa namanya tuh, monorel. Itu sudah tiga bulan yang lalu dia diskusi sama saya,” ucap Rano.

“Bang, gimana nih Bang?’ Saya bilang, ‘Mas, ini kalau kita enggak tebang juga, enggak ada legacy kita ini. Tebang aja. Tapi ini punya Adhi Karya.’ Suratin, kasih waktu,” sambungnya.

Ia menambahkan, keberadaan tiang monorel yang dibiarkan tanpa kejelasan justru membahayakan keselamatan masyarakat.

Bahkan, Rano menyebut sudah ada korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan tiang monorel tersebut.

Baca Juga :  Sempat Alot, Massa Demo Coldplay Akhirnya Bubar Usai Berhadapan dengan Irjen Karyoto

“Ini sudah 21 tahun enggak diapa-apain, didiamin saja. Sudah tujuh orang meninggal di situ, kecelakaan kena tiang itu,” katanya.

Rano juga mengungkapkan pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso atau Bang Yos yang menegaskan hanya ada dua pilihan terkait nasib tiang monorel.

“Kita hanya punya, makanya Bang Yos cuma bilang ada dua pilihan: mau dilanjutkan atau mau ditebang? Dilanjutkan tidak, ya ditebang,” ujar Rano.

Dalam nada bercanda, Rano mengaku sempat menyarankan agar pembongkaran tiang monorel diserahkan saja kepada komunitas Madura agar Pemprov DKI tidak perlu mengeluarkan anggaran.

“Saya sudah berbisik sama Pak Gub, ‘Pak, Mas, kalau mau kasih sama Madura, dapat duit kita ini.’ Daripada kita keluar duit, udahlah kita borongin sama Madura,” ucap Rano sambil tertawa.

Artikel Terkait

Berita Terpopuler

Lampiaskan Nafsu, Bu Guru Agama Ajak Siswanya Hubungan Badan, 2 Tahun Ketagihan 

Aliansi.co, Grobogan- Bu guru agama salah satu SMP di Grobogan, Jawa Tengah, dilaporkan ke polisi karena kasus pencabulan terhadap seorang siswanya. Guru perempuan inisial ST...

Berita Hukum

BGN Buka Suara soal Penemuan Mayat di Dapur MBG

Aliansi.co,Jakarta- Badan Gizi Nasional (BGN) buka suara soal penemuan mayat yang dikaitkan dengan dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu disampaikan BGN menyusul beredarnya informasi...

Mutasi Besar-besaran Polri, Wakabaintelkam-Kakorlantas hingga Kapolda Berganti

Aliansi.co, Jakarta – Polri kembali melakukan mutasi besar-besaran terhadap 199 personel yang terdiri dari perwira tinggi (Pati) dan perwira menengah (Pamen). Sejumlah jabatan strategis mulai...

Polri Gerebek Dua Kampung Narkoba Legendaris Jakarta, 24 Orang Diamankan

Aliansi.co, Jakarta- Polri menggerebek dua kampung legendaris yang terkenal sebagai basis peredaran narkoba di Jakarta, yakni Kampung Ambon, Jakarta Barat, dan Kampung Boncos, Jumat...

Terseret Dugaan Pemerasan dan Gratifikasi, Bupati Gowa Dijerat Pasal Berlapis

Aliansi.co, Jakarta – Bupati Gowa, HT, ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi berupa pemerasan dan/atau pungutan liar serta gratifikasi terkait pengurusan...

Kasus Pembubaran Ibadah GKPI Rajeg, Komisi III DPR Minta Polisi Transparan dan Profesional

Aliansi.co, Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI, Sarifuddin Sudding, menyoroti dugaan intimidasi dalam pembubaran kegiatan ibadah jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Mauk...