Menurut dia, langkah tersebut diharapkan dapat menghemat anggaran sekitar Rp100 triliun. Penghematan berasal dari biaya operasional, termasuk biaya rutin, gaji direksi dan komisaris.
“Berarti harapan saya kita bisa menghemat 100 triliun (rupiah),” ujarnya.
Prabowo mengatakan penghematan yang dilakukan pemerintah dari berbagai bidang telah mencapai lebih dari Rp200 triliun dan mendekati Rp300 triliun setiap tahun.
“Dari overhead, dari biaya rutin, gaji direksi, gaji komisaris, dan penghematan kita di berbagai bidang sudah mendekati setiap tahun lebih dari 200 triliun, mendekati 300 triliun setiap tahun,” katanya.
Prabowo menegaskan anggaran yang berhasil dihemat pemerintah akan dialihkan untuk kepentingan masyarakat.
Menurut dia, efisiensi bukan sekadar mengurangi pengeluaran, tetapi harus memberikan manfaat langsung bagi rakyat.
“Uang inilah yang kita alihkan, yang kita gelontorkan sebesar-besarnya langsung ke rakyat. Ini yang kita pakai,” kata Prabowo.
Ia menilai pesan yang disampaikan Rais Aam terpilih dalam Muktamar ke-35 NU juga sejalan dengan arah perjuangan pemerintah dalam menjalankan strategi transformasi bangsa.
Karena itu, Prabowo mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memperkuat keberpihakan kepada rakyat, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan.
Selain efisiensi, Prabowo menekankan pentingnya menjaga kemandirian pembiayaan pembangunan nasional.
Pemerintah, kata dia, tetap membuka kesempatan investasi masuk ke Indonesia, tetapi berupaya mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman.
“Kita sekarang berusaha tidak mau terlalu banyak pinjam-pinjam uang dari mana-mana,” ujarnya.
Menurut Prabowo, investasi tetap diperbolehkan.
Namun, jika pemerintah harus melakukan pinjaman, dia menginginkan pembiayaan dengan bunga serendah mungkin.
“Ajak investasi boleh, kalau kita pinjam uang, kita mau pinjam uang yang bunganya sekecil mungkin,” katanya.
Prabowo kemudian mengungkapkan pemerintah pernah mendapat tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) saat Menteri Keuangan berada di Washington DC. Tawaran tersebut, kata dia, ditolak.
“Jadi saya kira kemarin, beberapa bulan yang lalu, kaget Menteri Keuangan kita di Washington DC ditawarin pinjaman dari IMF, kita tolak,” ujar Prabowo.
“Terima kasih Indonesia masih bisa tanpa pinjaman dari IMF,” sambungnya.
