Aliansi.co, Jakarta – Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto Emik mengingatkan masyarakat agar tidak menelan bulat-bulat setiap pernyataan Rocky Gerung setelah resmi menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Menurut Sugiyanto, posisi Rocky kini berbeda dibandingkan ketika masih berbicara sebagai pengamat politik dari luar pemerintahan.
Setelah dilantik sebagai Wantimpres, setiap pernyataannya perlu dilihat dalam konteks tugas dan tanggung jawab kelembagaan yang melekat pada jabatan tersebut.
“Ucapan Wantimpres Rocky Gerung jangan ditelan bulat-bulat dan langsung dipercaya, karena belum tentu semuanya benar dan konsisten. Rakyat harus tetap kritis, karena setiap pernyataan Rocky Gerung setelah menjadi Wantimpres dapat dipandang sebagai bagian dari gambaran pemikiran yang berkembang di lingkungan pemerintahan,” ujar Sugiyanto dalam keterangan tertulisnya, Senin (5/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Sugiyanto menyusul kembali viralnya potongan video yang menampilkan dialog antara Rocky Gerung dan akademisi Feri Amsari.
Dalam video tersebut, Feri Amsari bertanya kepada Rocky, “Kalau panggilan mengabdi datang, bagaimana?”
Rocky kemudian menjawab bahwa jika tawaran tersebut datang, ia akan menolaknya dengan “cara saksama dalam tempo sesingkat-singkatnya”.
Diketahui, Rocky dilantik Presiden Prabowo Subianto bersama 25 anggota Wantimpres pada Jumat (2/10/2026).
Usai pelantikan, Rocky menegaskan bahwa keputusannya masuk ke pemerintahan tidak berarti meninggalkan sikap kritis yang selama ini melekat pada dirinya.
Ia menggambarkan langkah tersebut sebagai perpindahan posisi dari “luar ke dalam” dan menyebut sikap kritisnya tetap dipertahankan sebagai sebuah “radical break”.
Sugiyanto menilai, perubahan posisi tersebut menarik untuk dilihat dalam konteks perjalanan pemikiran Rocky Gerung selama bertahun-tahun.
Rocky selama ini dikenal sebagai akademisi dan pengamat politik yang kerap menyampaikan kritik terhadap kekuasaan.
Pada Pilpres 2019, misalnya, Rocky pernah menghadiri deklarasi alumni perguruan tinggi untuk pemenangan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Dalam kesempatan tersebut, Rocky bahkan mengatakan akan tetap mengkritik Prabowo apabila mantan Danjen Kopassus itu menjadi presiden.
Menurut Sugiyanto, pernyataan tersebut menjadi bagian dari rekam jejak yang penting untuk dilihat ketika Rocky kini berada di dalam struktur pemerintahan.
“Dahulu Rocky Gerung berbicara sebagai pengamat yang berada di luar pemerintahan. Sekarang dia menjadi bagian dari lembaga yang memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. Karena itu, setiap ucapan Rocky Gerung sebagai Wantimpres perlu ditempatkan dalam konteks kepentingan publik,” katanya.
