Diberitakan, Bareskrim Polri menggerebek sindikat perjudian online (judol) lintas negara di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat pada akhir pekan lalu.
Dalam operasi yang dilakukan pada Sabtu (9/5/2026), aparat kepolisian menangkap sebanyak 321 WNA yang tengah menjalankan aktivitas perjudian online.
Para pelaku diketahui berasal dari berbagai negara di Asia, menunjukkan skala jaringan yang bersifat internasional dan terorganisasi.
Karopenmas Divhumas Polri, Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan, pengungkapan ini merupakan bagian dari implementasi program pemerintah dalam pemberantasan kejahatan digital, khususnya perjudian online lintas negara.
“Ini merupakan satu bagian yang terintegrasi dengan program Bapak Presiden Republik Indonesia, Program Asta Cita, di mana implementasi dalam proses penegakan hukum, khususnya terkait perjudian online jaringan internasional,” ujar Trunoyudo dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).
Ia menegaskan bahwa praktik perjudian online lintas negara kini menjadi perhatian serius karena terus berkembang dan dijalankan secara sistematis oleh jaringan terorganisasi.
Sementara itu, Dirtipidum Bareskrim Polri, Wira Satya Triputra mengatakan, pengungkapan kasus ini berawal dari penyelidikan atas laporan masyarakat.
“Dari hasil penyelidikan tersebut, kami menemukan dugaan adanya aktivitas perjudian yang dilakukan secara terorganisasi dan melibatkan warga negara asing dari berbagai macam negara,” kata Wira.
Dari total 321 orang yang diamankan, terdiri atas 57 warga negara Tiongkok, 228 warga negara Vietnam, 11 warga negara Laos, 13 warga negara Myanmar, 3 warga negara Malaysia, 5 warga negara Thailand, dan 3 warga negara Kamboja.
Menurut Wira, para pelaku ditangkap dalam kondisi tertangkap tangan saat sedang menjalankan operasional perjudian online.
“Para pelaku kami tangkap dalam keadaan tertangkap tangan, dalam arti para pelaku sudah melakukan operasional ataupun kegiatan perjudian online,” ungkapnya.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan bahwa jaringan ini telah beroperasi selama kurang lebih dua bulan.
Polisi juga menemukan sekitar 75 domain dan situs web yang digunakan sebagai sarana perjudian online.
Selain itu, penyidik turut menyita sejumlah barang bukti berupa paspor, telepon genggam, laptop, komputer pribadi (PC), serta uang tunai dalam berbagai mata uang asing.
Para pelaku dijerat dengan Pasal 426 dan/atau Pasal 607 junto Pasal 20 dan/atau Pasal 21 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP serta Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
“Kami juga akan melakukan tracing terhadap aliran dana dan penelusuran terhadap server ataupun IP address daripada jaringan komunikasi,” jelas Wira.
