Aliansi.co, Jakarta – Anggaran permakanan bagi anak-anak yang tinggal di Panti Sosial Asuhan Anak Balita (PSAA) Tunas Bangsa, Cipayung, Jakarta Timur, sebesar Rp 40.480 per anak setiap hari dinilai sudah tidak mencukupi.
Pasalnya, anggaran tersebut harus memenuhi kebutuhan tiga kali makan dan dua kali makanan ringan (snack), sementara harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan.
Kepala PSAA Tunas Bangsa, Rida Mufrida, mengatakan besaran anggaran tersebut sudah tidak sebanding dengan kondisi harga bahan baku di pasaran saat ini.
“Kalau kita bicara realistis dengan kondisi kebutuhan barang pokok yang udah mulai naik, sebenarnya tidak cukup untuk sekali kita makan,” kata Rida saat dihubungi, Rabu (4/11/2026).
Meski demikian, pihak panti tetap berupaya mengoptimalkan anggaran yang tersedia agar kebutuhan konsumsi seluruh anak dapat terpenuhi.
“Ya, dicukup-cukupin, tapi alhamdulillah kami standar makan itu kan secara menu kerja sama dengan puskesmas, menunya untuk standar gizinya,” ujarnya.
Rida menjelaskan, anggaran Rp 40.480 tersebut dialokasikan untuk tiga kali makan dan dua kali snack dalam sehari.
Jika dibagi rata untuk tiga kali makan, anggaran yang tersedia hanya sekitar Rp 13.493 per anak untuk sekali makan, belum termasuk kebutuhan makanan ringan.
Untuk menjaga kualitas asupan gizi, penyusunan menu dilakukan bersama pihak puskesmas.
Menu makanan dirancang untuk periode 10 hari, kemudian kembali ke susunan menu pertama.
Dalam memenuhi kebutuhan permakanan, pihak panti tidak membeli makanan siap saji atau menggunakan jasa katering.
Bahan baku dikirim oleh penyedia sesuai menu yang telah ditentukan, kemudian diolah sendiri oleh petugas panti.
“Kalau beli (seperti katering) ya enggak nyampe (cukup) lah segitu. Untuk Rp 13.000 satu orang untuk satu kali makan, jadi disiasatin, dimasak-masak gitu,” ungkap Rida.
Pengolahan makanan juga disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.
Termasuk bayi yang mulai mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI).
Untuk bayi berusia sekitar enam bulan, makanan dibuat dalam bentuk bubur halus yang kemudian diblender.
Sementara bayi yang usianya lebih besar diberikan bubur dengan tekstur lebih kasar.
Rida menyebutkan, besaran anggaran permakanan tersebut sudah berlaku sejak lama.
Sementara itu, harga bahan baku terus mengalami kenaikan sehingga menyulitkan penyedia dalam memenuhi kebutuhan sesuai anggaran yang ditetapkan.
Bahkan, sejumlah penyedia permakanan telah menyampaikan keluhan karena nilai anggaran yang tersedia dinilai tidak lagi sesuai dengan harga bahan baku di pasaran.
Pihak PSAA Tunas Bangsa pun telah mengajukan usulan penyesuaian anggaran kepada pemerintah.
Namun, hingga kini belum ada kenaikan.
“Udah lama banget, makanya kan cuma kan mau minta, udah banyak juga yang penyedia permakanan itu kan sudah pada teriak sebenarnya karena bahan baku sebenarnya udah pada naikan, enggak sesuai,” tuturnya.
