Aliansi.co, Jakarta – Suasana di Kantor Dewan Kota Jakarta Selatan tampak berbeda pada Jumat siang (17/7/2026).
Dari ruang rapat Dewan Kota di lantai 10 Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibaca berulang-ulang dengan penuh kekhusyukan.
Ternyata, para anggota Dewan Kota Jakarta Selatan tengah mengikuti kegiatan tahsin Al-Qur’an untuk memperbaiki bacaan Surat Al-Fatihah, surat yang menjadi bacaan wajib dalam setiap rakaat salat.
Mengenakan kemeja putih dan peci hitam, Ketua Dewan Kota Jakarta Selatan Farid Rahman, Wakil Ketua Ahmad Kurtubi, Bendahara Syihab Azzuhri, serta anggota Zainudin duduk melingkar mengikuti arahan pembimbing.
Mereka menyimak, membaca, lalu mengulang setiap ayat dengan saksama.
Kegiatan tersebut dipandu Dewan Hakim Nasional Rahmat Abdurrahim Batubara yang membimbing mereka memperbaiki makhraj huruf, panjang-pendek bacaan, hingga ketepatan tajwid.
Ketua Dewan Kota Jakarta Selatan Farid Rahman mengatakan tahsin Al-Qur’an merupakan kebutuhan setiap muslim sehingga sudah selayaknya menjadi agenda yang berkelanjutan di lingkungan Dewan Kota.
“Kami berharap kegiatan tahsin seperti ini dapat diagendakan secara rutin sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk terus memperbaiki bacaan Al-Qur’an,” kata Farid, Jumat.
“Belajar Al-Qur’an tidak mengenal usia maupun jabatan. Semoga kegiatan ini dapat menjadi contoh dan motivasi bagi masyarakat Jakarta Selatan untuk terus belajar kepada para guru dan ahli Al-Qur’an,” lanjutnya.
Menurut Farid, semangat belajar Al-Qur’an tidak boleh berhenti meski seseorang telah memiliki jabatan maupun pengalaman.
Semakin besar amanah yang diemban, lanjutnya, semakin besar pula kebutuhan untuk terus memperbaiki diri, dimulai dari memperbaiki bacaan Al-Qur’an yang menjadi bagian utama dalam ibadah sehari-hari.
Sementara itu, Rahmat Abdurrahim Batubara menjelaskan Surat Al-Fatihah dipilih sebagai fokus pembelajaran karena memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pelaksanaan salat.
“Al-Fatihah merupakan rukun qawli sehingga menjadi bagian dari rukun salat yang wajib dibaca oleh setiap muslim dalam salatnya. Minimal kita harus mampu memimpin dan menjadi imam bagi diri kita sendiri sebelum kemudian memimpin umat,” jelas Rahmat.
Ia menuturkan, memperbaiki bacaan Al-Fatihah bukan sekadar menyempurnakan aspek teknis membaca Al-Qur’an, melainkan juga menjadi upaya meningkatkan kualitas ibadah seorang muslim.
Rahmat juga mengingatkan bahwa belajar membaca Al-Qur’an merupakan proses yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.
Karena itu, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk merasa malu apabila masih terbata-bata saat belajar.
“Dalam belajar membaca Al-Qur’an kita perlu melakukannya secara perlahan-lahan dan bertahap. Bagi yang masih terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an, Allah SWT memberikan dua kebaikan atas usaha dan kesungguhannya dalam belajar,” kata dia.
“Sedangkan bagi mereka yang telah baik bacaannya, Allah memuliakan mereka dengan derajat yang disejajarkan bersama para malaikat yang mulia,” sambungnya.
