Tempat yang disebut sebagai lokasi training PT Cakrawala ternyata merupakan sebuah rumah kontrakan.
Di lokasi tersebut, Fernando bertemu dengan seorang perempuan bernama Helen yang mengaku sebagai HRD perusahaan.
Alih-alih menjalani training, Fernando dan sejumlah pelamar lainnya justru kembali diminta membayar biaya administrasi sebesar Rp150 ribu.
“Kita malah dipalak lagi Rp150 ribu untuk biaya administrasi training. Saat itu saya baru sadar ternyata mereka adalah komplotan,” ujar Fernando.
Fernando mengatakan dirinya bersama pelamar lainnya kemudian menolak permintaan tersebut.
Setelah penolakan itu, mereka hanya dijanjikan akan dihubungi kembali untuk mendapatkan pemanggilan kerja.
Menurut Fernando, rangkaian kejadian tersebut membuat dirinya dan sejumlah pelamar mulai menyadari adanya dugaan modus penipuan berkedok lowongan pekerjaan.
“Kami baru tersadar kalau ini loker bodong seperti di Pasar Minggu yang lagi viral,” katanya.
Fernando berharap kejadian tersebut dapat menjadi perhatian aparat penegak hukum dan ditindaklanjuti.
Ia juga meminta masyarakat, khususnya para pencari kerja, lebih berhati-hati terhadap informasi lowongan pekerjaan yang beredar melalui media sosial.
“Kami berharap kejadian yang kami alami ini menjadi perhatian aparat dan ditindaklanjuti,” kata Fernando.
