Aliansi.co, Jakarta- Dugaan penipuan berkedok lowongan kerja kembali terjadi di Jakarta Timur.
Seorang pelamar kerja bernama Fernando Silalahi mengaku diminta membayar uang jaminan sebesar Rp1,6 juta setelah menjalani proses wawancara di sebuah lokasi di kawasan Jatinegara.
Dugaan penipuan ini bermula ketika Fernando melihat informasi lowongan pekerjaan yang mengatasnamakan PT Garuda Jaya Logistik (GJL) melalui media sosial Facebook.
Tertarik dengan lowongan tersebut, Fernando kemudian menghubungi nomor kontak yang tercantum dalam informasi untuk menanyakan proses pendaftaran.
Ia mengaku mendapat respons cepat dari penyedia loker dan langsung diminta membawa surat lamaran secara langsung ke lokasi yang disebut sebagai kantor perusahaan pada keesokan harinya.
Admin tersebut juga memberikan alamat lengkap serta petunjuk rute menggunakan transportasi umum menuju lokasi.
Dengan membawa berkas lamaran dan berharap dapat segera memperoleh pekerjaan, Fernando kemudian mendatangi Gedung Samboja di Jalan Bekasi Barat, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.
Namun, setibanya di lokasi, Fernando mengaku tidak menemukan kantor PT Garuda Jaya Logistik sebagaimana informasi awal yang diterimanya.
Ia justru bertemu dengan dua orang yang mengaku sebagai pihak penyalur tenaga kerja dari PT ACB.
Fernando kemudian menjalani proses wawancara dengan seorang perempuan bernama Berlina lazimnya proses loker.
Setelah itu, ia diarahkan bertemu dengan seseorang yang disebut sebagai HRD bernama Angga.
Usai menjalani proses wawancara, Fernando bersama sejumlah pelamar lainnya dinyatakan lulus dan disebut dapat melanjutkan ke tahap penempatan kerja.
Namun, bukannya langsung mendapatkan pekerjaan, Fernando mengaku justru diminta menyerahkan uang jaminan sebesar Rp1,6 juta.
“Mereka bilang sebagai uang jaminan. Kalau sampai tiga kali ditolak kerja, uang kami dikembalikan, begitu kata mereka kepada kami,” kata Fernando, Sabtu (5/9/2026).
Fernando kemudian menyerahkan uang tersebut.
Setelah itu, dia bersama sejumlah pelamar lainnya diarahkan untuk menjalani training sebagai salah satu syarat penempatan kerja.
Mereka diberikan nomor telepon yang disebut sebagai kontak pimpinan PT Cakrawala, perusahaan yang diklaim menjadi tempat training para pelamar.
Fernando kemudian menghubungi nomor tersebut dan mendapat arahan untuk datang ke sebuah lokasi di sekitar restoran cepat saji di kawasan Jatinegara.
Namun, setibanya di lokasi, Fernando kembali menemukan kejanggalan.
