Aliansi.co,Jakarta- Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan mendorong kolaborasi dengan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk memperbanyak fasilitas bermain dan ruang edukasi anak di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).
Hal itu disampaikan Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Firmanuddin Ibrahim saat meresmikan Lapak Main Corner di RPTRA Tunas Muda, Kelurahan Kramat Pela, Kecamatan Kebayoran Baru, Selasa (4/8/2026).
Firmanuddin mengapresiasi kehadiran Lapak Main Corner yang dinilai tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga ruang bagi anak-anak untuk belajar, berkreasi, dan membangun kebiasaan membaca di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
“Kita ketahui saat ini era digital semakin berkembang, namun membiasakan diri untuk membaca secara langsung itu wajib. Mudah-mudahan dengan keberadaan fasilitas ini dapat memberikan manfaat, kebaikan, serta menambah wawasan bagi anak-anak kita,” ujar Firmanuddin di Kebayoran Baru, Selasa.
Firmanuddin berharap program CSR dapat menghadirkan lebih banyak ruang kreatif yang mendukung tumbuh kembang anak sekaligus meningkatkan budaya literasi sejak dini.
Menurutnya, fasilitas serupa perlu diperluas ke RPTRA lain di Jakarta Selatan agar semakin banyak anak yang memperoleh akses terhadap ruang bermain dan belajar yang berkualitas.
“Nanti akan kami upayakan, saat ini memang baru ada satu. Mudah-mudahan ke depannya kita bisa menjalin kerja sama kembali melalui program CSR atau lainnya,” katanya.
Firmanuddin menilai kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi salah satu strategi untuk mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045 melalui penyediaan ruang publik yang ramah anak.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta Dwi Oktavia mengatakan Lapak Main Corner diharapkan menjadi ruang kreatif yang mampu memperkenalkan literasi digital sesuai usia anak, sekaligus menumbuhkan minat baca dan kreativitas.
Menurut Dwi, rendahnya minat baca masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Di sisi lain, anak-anak juga perlu didorong agar tidak hanya terpaku pada gawai, tetapi tetap memiliki ruang untuk berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya.
“Mengingat salah satu tantangannya adalah rendahnya minat baca anak saat ini serta mengembangkan imajinasi dan memperkuat interaksi sosial. Jangan sampai anak-anak terlalu larut dalam dunia digital hingga lupa berinteraksi dengan teman sebaya mereka,” ujarnya.
