Aliansi.co,Jakarta – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur bakal menggelar pelaksanaan Operasi Tangkap Tangan (OTT) secara serempak terhadap warga yang kedapatan membuang sampah sembarangan.
Wali Kota Administrasi Jakarta Timur Munjirin mengatakan OTT perlu dilakukan secara merata, terutama di lokasi-lokasi yang selama ini menjadi titik rawan pembuangan sampah liar.
“OTT bagi warga yang terbukti membuang sampah sembarangan perlu dilakukan secara merata,” kata Munjirin, Jumat (28/8/2026).
Menurut Munjirin, pengawasan menjadi salah satu langkah penting untuk mempertahankan tren positif pengurangan timbulan sampah di Jakarta Timur.
Berdasarkan evaluasi, rata-rata timbulan sampah harian pada periode Mei hingga Juli 2025 berada di kisaran 1.900 hingga 2.400 ton per hari.
Angka tersebut berhasil ditekan pada periode yang sama pada 2026 menjadi rata-rata 1.371,43 ton per hari.
Sehingga terjadi penurunan timbulan sampah hingga 865,57 ton per hari.
Meski demikian, Pemkot Jakarta Timur masih menemukan sejumlah persoalan di lapangan.
Salah satunya masih adanya warga yang membuang sampah sembarangan serta tempat usaha yang belum menerapkan pemilahan sampah.
Munjirin meminta setiap lurah memetakan lokasi yang rawan menjadi titik pembuangan sampah.
Pemetaan diperlukan untuk menentukan lokasi yang membutuhkan pengawasan lebih ketat.
Terlebih, kata dia, terdapat sejumlah titik yang kerap digunakan untuk membuang sampah oleh warga dari luar wilayah.
“Setiap lurah juga saya minta memetakan lokasi rawan tumpukan sampah, terutama kelurahan yang sering kali dipicu oleh warga dari luar wilayah,” ujarnya.
Untuk memperkuat pengawasan, lurah diminta mendirikan posko penjagaan di lokasi-lokasi tersebut.
Petugas Satpol PP dan Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) dapat dilibatkan untuk melakukan pemantauan.
Pengawasan juga diharapkan melibatkan pengurus RT, RW, Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), serta tokoh masyarakat setempat.
Munjirin meyakini kehadiran petugas di lokasi rawan dapat membuat warga berpikir ulang untuk membuang sampah sembarangan.
“Saya yakin jika adanya penjagaan seperti itu membuat warga yang ingin membuang sampah, karena adanya petugas menjadi takut, dan harapannya di kemudian hari tidak melakukan hal yang sama kembali,” tandasnya.
Di sisi lain, Munjirin juga mendorong pengurangan sampah dari sumbernya melalui pemilahan sejak dari rumah.
Berdasarkan data Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, sebanyak 702.150 warga atau setara 175.537 kepala keluarga (KK) telah aktif memilah sampah dari rumah.
Munjirin meminta jajaran kecamatan dan kelurahan terus mengintensifkan sosialisasi agar kebiasaan tersebut diterapkan secara menyeluruh.
Sosialisasi tidak hanya ditujukan kepada masyarakat di permukiman, tetapi juga sektor usaha.
Munjirin smenyoroti masih adanya restoran yang belum optimal melakukan pemilahan sampah.
“Masih melihat ada restoran yang belum melakukan pilah sampah. Saya harapkan Sudin LH untuk melakukan sosialisasi pilah sampah bersama kasatpel di masing-masing kecamatan dan kelurahan,” katanya.
Dia berharap upaya penindakan melalui OTT yang dibarengi sosialisasi dan pengawasan dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat.
“Saya harapkan adanya perubahan di wilayah Jakarta Timur di bulan berikutnya,” pungkas Munjirin.
