Aliansi.co, Jakarta- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengajak seluruh warga berperan aktif dalam mengatasi persoalan sampah guna mengurangi beban TPST Bantargebang.
Upaya ini dilakukan dengan memperkuat gerakan pemilahan sampah dari sumber, terutama di tingkat rumah tangga.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan langkah tersebut merupakan arahan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, agar penanganan sampah tidak lagi bertumpu pada pengangkutan dan penimbunan semata.
Menurut Asep, peran wali kota, camat, hingga lurah sangat penting sebagai penggerak utama di wilayah masing-masing.
Mereka diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat sekaligus memastikan kebiasaan memilah sampah dapat berjalan konsisten.
“Pemilahan sampah dari sumber harus dilakukan secara konsisten dan masif agar berdampak nyata pada pengurangan volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang,” ujar Asep dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (3/4).
Ia menjelaskan, keberhasilan pengurangan sampah sangat bergantung pada koordinasi di tingkat wilayah.
Kolaborasi antara pemerintah kota, kecamatan, hingga kelurahan menjadi fondasi penting dalam mendorong partisipasi warga.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, DLH juga mendorong pengaktifan kembali sarana pengelolaan sampah berbasis masyarakat, seperti Bidang Pengelola Sampah (BPS) di tingkat RW.
Keberadaan BPS diharapkan menjadi pusat aktivitas pengelolaan sampah di lingkungan warga.
Selain itu, pengolahan sampah organik melalui biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF) terus dikembangkan.
Metode ini dinilai efektif dalam mengurangi sampah sisa makanan yang selama ini mendominasi timbulan sampah rumah tangga.
“Penguatan bank sampah juga tetap menjadi fokus. Selain mengurangi sampah, bank sampah memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.
Asep menegaskan, persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga masyarakat.
“Kami mendorong agar pemilahan sampah menjadi kebiasaan di rumah, dimulai dari memisahkan sisa makanan dan plastik. Dampaknya besar, tidak hanya bagi kebersihan lingkungan, tetapi juga kesehatan dan kualitas hidup masyarakat,” tutupnya.
