Aliansi.co, Jakarta – Menteri ESDM yang juga Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia sempat kehilangan fokus saat menyampaikan pidato sambutan dalam acara Training of Trainers Akademi Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Senin (3/8/2026).
Bukan karena materi pidato, perhatian Bahlil mendadak teralihkan setelah ajudannya menghampiri podium dan menyampaikan pesan bahwa dirinya dipanggil Presiden Prabowo Subianto.
Momen tersebut terjadi ketika Bahlil tengah menyampaikan pandangannya mengenai dinamika politik di internal Partai Golkar.
Saat itu, ia sedang membahas persiapan menghadapi musyawarah daerah (Musda) partai.
“Orang solat aja ada dinamika, apalagi Musda Partai Golkar. Tapi bagaimana kita mensiasati…” ujar Bahlil, dilansir dalam tayangan video yang beredar, Selasa (4/8/2026).
Seorang ajudan kemudian datang menghampiri Bahlil sambil membawa secarik kertas.
Bahlil membaca pesan tersebut dan langsung menghentikan sambutannya.
Ia pun melontarkan candaan kepada ajudannya karena merasa konsentrasinya terganggu.
“Kau merusak saya punya pidato saja. Kau belum selesai punya pidato. Ini baru ya? Bisa enggak jam satu lima belas?” ujar Bahlil sambil tersenyum.
Bahlil kemudian mengungkapkan alasan dirinya sempat teralihkan.
Ia menyebut ada agenda pertemuan dengan Presiden Prabowo yang membuat pikirannya terbagi.
“Kita mau pidato hilang pikiran gara-gara dipanggil Presiden. Bos, negoisasi dulu, lobi dulu, lobi-lobi,” kata Bahlil yang disambut tawa peserta.
Meski sempat terganggu, Bahlil kembali melanjutkan pidatonya.
Ia menyampaikan sejumlah arahan mengenai pentingnya penguatan kaderisasi Partai Golkar melalui Akademi Partai Golkar.
Bahlil juga menyinggung dinamika tugas yang dijalaninya sebagai Menteri Investasi dan Menteri ESDM.
“Dinamika Menteri Investasi dan Menteri ESDM, dinamikanya luar biasa,” ujarnya.
Namun, di tengah sambutan, Bahlil kembali menghentikan pidatonya untuk memastikan apakah agenda bertemu Presiden Prabowo masih bisa dinegosiasikan.
Ia kemudian menanyakan hal tersebut kepada stafnya bernama Monang.
“Bisa tidak dilobi jam satu itu? Kalau enggak bisa saya harus berakhir. Tapi kalau enggak bisa masih ada 15 menit,” ucapnya.
Bahlil pun meminta maaf karena harus menyesuaikan waktu dengan agenda Presiden Prabowo.
Padahal, kata dia, sebelumnya baru saja selesai mengikuti rapat.
“Saya mohon maaf dipanggil Pak Presiden jam satu. Padahal tadi baru habis rapat,” kata Bahlil.
Setelah mendapat kepastian bahwa jadwal pertemuan dapat diundur, Bahlil kembali melanjutkan sambutannya.
Ia bahkan menjadikan momen tersebut sebagai bahan candaan tentang kemampuan negosiasi yang menjadi karakter kader Partai Golkar.
“Bisa? Hah? Oh, tambah lagi kalau gitu. Nah ini, ini, ini ilmu olah Golkar. Biasanya kalau yang lain kan datang harus tepat waktu, kita masih bisa. Nah, inilah ciri daripada kader Partai Golkar dan bukan Partai Golkar, negosiasi,” kelakar Bahlil yang disambut gelak tawa para kader yang hadir.
