Oleh: Peter Julio Tarigan
Aliansi.co, Jakarta- Reshuffle Kabinet terakhir kemaren cukup membuat geger publik nasional. Ditengah derasnya demonstrasi dijawab pemerintah dengan perombakan kabinet.
Dan yang paling disoroti adalah pergantian Menteri keuangan. Media nasional dan internasional ramai tertuju kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang baru dilantik menggantikan Sri Mulyani.
Tak berselang lama, media international, The Straits Times menjulukinya “cowboy style” karena gaya komunikasinya yang lugas, tegas, dan berani mengambil risiko. Tambah dengan target ambisius pertumbuhan ekonomi pula.
Sang Menteri Purbaya tampil sangat percaya diri, meski pasar masih penuh tanda tanya. Salah satu kebijakan Purbaya disebut “koboi” karena berani mengambil langkah tak lazim.
Salah satunya dengan mengalihkan Rp200 triliun dana pemerintah dari Bank Indonesia ke bank himpunan milik negara (Himbara). Tujuannya sederhana saja, yakni memperbesar likuiditas agar kredit usaha meningkat, konsumsi naik, dan investasi berjalan.
Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya menjadi studi kasus menarik dalam komunikasi publik.
Kenapa tidak, karena Purbaya menghadapi tantangan berat di tengah badai ekonomi global yang lesu, imbuh dia menggantikan figur dengan rekam jejak dan citra publik yang sangat kuat, Bu Sri Mulyani.
Dan, bukanlah tokoh sembarang. Suka tidak suka, Purbaya membutuhkan energi strategi komunikasi yang besar namun efektif untuk merebut hati publica. Terlebih agar pasar ekonomi merespon positif.
Sedari awal gaya komunikasi Purbaya memang sangat proaktif. Purbaya membangun positioning dan identitas barunya sebagai Menteri yang baru dan mumpuni. Gayanya ceplas ceplosnya menambah kekuatan strategi komunikasi.
Alhasil, Purbaya tersebutlah “Sang Koboi”.
Gaya komunikasinya saat pertama menjadi mentri, merespons pertanyaan wartawan tentang tuntutan 17+8 dari masyarakat dalam gelombang demonstrasi akhir Agustus lalu, salah bukti strategi komunikasi yang dibangun. Dan itu sangat mencuri perhatian. Meski kontroversial namun berhasil mendatangkan efek luar biasa.
Terkait tuntutan tersebut, Purbaya dalam konferensi pers perdananya usai pelantikan di Kementerian Keuangan, mengaku belum mempelajarinya, namun mempunyai keberanian merespon masalah.
“Tapi basically begini. Itu suara sebagian kecil rakyat kita. Kenapa mungkin sebagian merasa terganggu hidupnya masih kurang ya,” ujarnya.
Pernyataannya itu disusul dengan penjelasan singkat tentang solusi yang ia akan kerjakan untuk menjawab tuntutan tersebut. “Once saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6%, 7%, itu (tuntutan 17+8) akan hilang dengan otomatis. Mereka akan sibuk cari kerja dan makan enak dibandingkan mendemo,” tambahnya lagi.
Pernyataan ini bikin public semakin geger.
Seolah-olah solusi mudah dan ada di depan mata. Berbagai lapisan masyarakat langsung merespons. Netizen di media sosial, beragam bereaksi menyatakan sependapapat dan tidak sependapat dengan pernyataan tersebut.
Kenapa tidak, ada yang menganggap ucapan Purbaya soal ‘suara sebagian kecil rakyat’. Merendahkan aksi demonstrasi masyarakat yang sudah memakan korban.
Bahkan beberapa pengamat mempertanyakan penggunaan kata “saya” dalam kalimat “saya ciptakan pertumbuhan ekonomi” yang terkesan individual ketimbang kerja tim. Purbaya dianggap terlalu single player dan sangat percaya diri.
Bukan Koboi namanya kalo bukan Purbaya. Aktivitasnya turun lapangan seperti makan di warung kaki lima atau makan di kantin adalah perilaku luar biasa.
Ya, memang tidak berpengaruh langsung pada kebijakan yang sedang akan dijalankan, tetapi ini berhasil membangun kepercayaan publik.
Terlihat dia seorang Menteri yang memang bekerja. Meski dia seorang pejabat, ternyata juga ikut merasakan, mendengarkan dan melihat sendiri realita di tengah masyarakat.
Setidaknya, perilakunya itu semakin kian mempersempit jarak antara pemerintah dengan rakyat. Meski keadaan ekonomi masih fase stagnan. Namun gaya komunikasi ini melonggarkan hubungan rakyat dengan pemerintah yang sempat tegang di masa masa demontrasi di agustus lalu.
Gaya komunikasi dengan ‘menyapa realita’ rakyat seperti tersebut di atas, makin mempermudah Purbaya berkomunikasi ke khalayak. Nantinya, kebijakan semakin mudah dicerna dan diterima.
Sebagai contoh, Purbaya Yudhi Sadewa mengaku terkejut saat mengetahui besaran tarif cukai hasil tembakau (CHT) yang mencapai rata-rata 57%. Saking terkejutnya dia menyebut Firaun.
“Saya tanya, kan, cukai rokok gimana? Sekarang berapa rata-rata? 57%, wah tinggi amat, Firaun lu,”
Kita tau sendiri Firaun adalah sosok pemimpin Mesir. Yang merupakan sosok pertama di bumi yang mengenalkan sistem pungutan negara kepada rakyat, alias pajak. Firaun menetapkan pajak tinggi jika ladang tersebut sangat produktif atau memiliki hasil panen melimpah.
Pengambilan kalimat “Firaun” menghasilkan magnitude yang sangat besar. Terlihat memang agak frontal, namun gaya komunikasi ini menghasilkan telinga nyaman buat rakyat. Terlihat puluhan ribu potongan kalimat ini dijadikan konten di media sosial oleh para netizen.
Sepertinya harapan masyarakat semakin bertumbuh. Bakal ada kepastian yang baik dan berpihak kepada rakyat oleh kebijakan Kementrian Keuangan nantinya.
Bisa saja pernyataan itu menimbulkan perspektif lain. Namun pesan besar yang ditangkap adalah, Purbaya bisa mengambil hati rakyat dan mengambil posisi di kepentingan rakyat.
“Memang harus dibatasi yang rokok itu, paling enggak orang ngertilah…,
Harus ngerti risiko rokok itu seperti apa. Tapi enggak boleh dengan policy untuk membunuh industri rokok terusnya tenaga kerjanya dibiarkan tanpa kebijakan bantuan dari pemerintah,”
