Selasa, Mei 19, 2026

Kisah Putri yang Berjuang Hapus Tato, Susah Kerja hingga Pernah Ditinggal Pacar

WIB

Aliansi.co Jakarta- Ruangan Dirgantara di lantai 2 Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, masih lengang pada Kamis (26/2/2026) pagi.

Kursi-kursi tersusun rapi, sementara beberapa petugas bersiap dengan peralatan laser yang akan digunakan untuk program hapus tato gratis dari Baznas (Bazis) Jakarta Selatan.

Di salah satu sudut ruangan, Putri Dwiyana (26) duduk tenang menunggu gilirannya.

Tangannya yang telah diolesi krim anestesi digenggam erat, seolah menahan campuran rasa gugup dan harap.

Baca Juga :  Ketua DPRD Dorong Baznas BAZIS DKI Perbanyak Bedah Rumah Warga Tak Mampu

Sesekali, ia melirik ke arah ibunya, Sutiyani, yang setia mendampingi.

Sudah lama Putri berniat menghapus tato yang dibuatnya lima tahun lalu.

Perempuan asal Kebayoran Lama itu memiliki tato di lengan dan punggung.

Namun, dalam program ini, penghapusan hanya bisa dilakukan pada satu titik, sehingga ia memilih lengan kanan bagian tubuh yang paling sering terlihat.

“Rasanya biasa aja, enggak sakit. Kayak disetrum doang sih,” ujar Putri Dwiyana sambil tersenyum tipis usai menjalani tindakan.

Baca Juga :  Pemkot Jaksel Apresiasi Perolehan ZIS Bulan Ramadan 1446 H Tembus Rp5 Miliar

Ia memahami proses penghapusan tato tidak bisa instan.

Tinta yang sudah terlanjur melekat di kulit membutuhkan beberapa kali tindakan untuk benar-benar memudar.

“Enggak langsung hilang. Yang sudah-sudah enam kali. Ya, enam tahun,” katanya.

Bagi Putri, keputusan menghapus tato bukan sekadar soal penampilan.

Ada pengalaman pahit yang terus terulang setiap kali ia melamar pekerjaan.

Baca Juga :  Banyak Peminat, Munjirin Dorong Baznas Bazis Jakarta Rutin Gelar Hapus Tato Gratis

Ia merasa tato di tubuhnya menjadi penghalang untuk mendapatkan kesempatan kerja.

“Pengalaman saya nyari kerja susah. Nyari kerja enggak boleh,” ucapnya lirih.

Tak hanya urusan pekerjaan, tato itu juga memengaruhi kehidupan pribadinya.

Ia bercerita, hubungan asmaranya pernah kandas karena keluarga sang kekasih tidak menyukai perempuan bertato.

Stigma “cewek nakal” melekat begitu saja.

Artikel Terkait

Berita Terpopuler

Lampiaskan Nafsu, Bu Guru Agama Ajak Siswanya Hubungan Badan, 2 Tahun Ketagihan 

Aliansi.co, Grobogan- Bu guru agama salah satu SMP di Grobogan, Jawa Tengah, dilaporkan ke polisi karena kasus pencabulan terhadap seorang siswanya. Guru perempuan inisial ST...

Berita Hukum

Polisi Gulung Jaringan Narkoba Malaysia, 32 Kg Sabu Disita di Jakarta dan Bekasi

Aliansi.co,Jakarta- Polda Metro Jaya melalui Direktorat Reserse Narkoba berhasil menggulung sindikat peredaran narkotika jaringan internasional asal Malaysia. Dalam pengungkapan tersebut, polisi mengamankan barang bukti sabu...

Terungkap Penggerebekan Sindikat Judol Internasional di Jakbar, Berawal dari Laporan Warga

Aliansi.co,Jakarta- Pengungkapan sindikat perjudian online (judol) lintas negara di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, bermula dari laporan masyarakat yang mencurigai aktivitas sejumlah warga negara...

Jaga Profesionalitas, Personel Polri Dilarang Live Streaming saat Bertugas

Aliansi.co, Jakarta- Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menegaskan larangan bagi seluruh personelnya untuk melakukan siaran langsung (live streaming) di media sosial saat sedang menjalankan...

Bareskrim Bongkar Peredaran Narkotika Jaringan Riau, Berawal dari Penangkapan Asiong

Aliansi.co,Jakarta- Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri berhasil membongkar peredaran narkotika jaringan Riau. Jaringan ini terungkap berawal dari penangkapan seorang tersangka bernama Hendi alias...

Dendam Kesumat Berujung Maut, Nus Kei Tewas Ditikam di Bandara

Aliansi.co,Maluku- Polisi mengungkap motif di balik penusukan yang menewaskan Agrapinus Rumatora (59) alias Nus Kei di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku. Peristiwa berdarah itu diduga kuat...