Di sampingnya, Sutiyani mengaku sudah lama ingin putri bungsunya menghapus tato.
Namun, biaya penghapusan yang tidak murah membuat niat itu tertunda.
Ia juga sempat mendengar program serupa dengan syarat menyetor hafalan ayat, tetapi saat itu pendaftarannya telah ditutup.
“Tahun kemarin dengar ada, tapi sudah tutup. Katanya bayarnya mahal juga kalau sendiri,” tutur Sutiyani.
Sebagai seorang ibu, ia melihat perubahan dalam diri Putri Dwiyana.
Putrinya kini lebih rajin beribadah dan berpuasa.
Hal itu semakin menguatkan keyakinannya untuk membantu sang anak memperbaiki masa depan.
“Kalau sholat alhamdulillah rajin sholatnya,” kata Sutiyani.
Sutiyani bahkan pernah meyakinkan Putri dengan menunjukkan tayangan televisi tentang seseorang yang menghapus tato berukuran besar dan tetap bisa tertawa selama proses berlangsung.
Ia ingin menghapus rasa takut anaknya terhadap prosedur laser.
“Saya bilang, ‘lihat dek, itu enggak sakit’, lalu dia mau,” ujarnya mengenang.
Ketika mendengar adanya program hapus tato gratis di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Sutiyani tak ingin melewatkan kesempatan tersebut.
Ia segera mengajak Putri Dwiyana datang dan mendaftar langsung.
“Alhamdulillah pas sampai sini masih ada kuota untuk anak saya. Terima kasih, program hapus tato gratis Baznas Bazis ini sangat membantu,” katanya.
