Aliansi.co,jakarta- Presiden Prabowo Subianto meminta dugaan keterlibatan korporasi dalam pembakaran hutan dan lahan (karhutla) diusut secara menyeluruh.
Tak hanya meminta nama perusahaan yang diduga terlibat diungkap, Prabowo juga ingin mengetahui siapa pemilik korporasi tersebut.
Arahan itu disampaikan Prabowo saat memimpin rapat terbatas mengenai perkembangan penanganan bencana alam dari Istana Merdeka, Jakarta, melalui konferensi video, Senin (7/9/2026).
Prabowo meminta aparat penegak hukum memastikan apakah karhutla yang terjadi merupakan akibat kelalaian masyarakat atau dilakukan secara sengaja untuk kepentingan pembukaan lahan perkebunan.
“Jadi ini benar-benar kesengajaan, dan apakah ini rakyat atau ini korporasi? Tapi tolong diselidiki terus dan saya minta segera nama-nama korporasi itu sampai ke saya yang 8 maupun yang 18,” ujar Prabowo.
Tak berhenti pada pengungkapan nama perusahaan, Prabowo meminta pemerintah menelusuri kepemilikan korporasi yang diduga terlibat karhutla.
Menurut dia, informasi mengenai pemilik perusahaan penting untuk memastikan pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran tersebut.
“Ini sudah kelewatan dan juga saya ingin tahu benar-benar korporasi itu milik siapa,” kata Prabowo.
Prabowo juga meminta kementerian dan lembaga terkait melakukan penilaian terhadap korporasi yang diduga terlibat pembakaran hutan dan lahan.
Ia menyebut Menteri Kehutanan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), serta Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) perlu dilibatkan dalam proses tersebut.
Jika ditemukan pelanggaran, Prabowo meminta pemerintah tidak ragu memberikan sanksi tegas, termasuk mencabut izin perusahaan.
“Nanti akan saya minta mungkin Menteri Kehutanan, ATR, dan juga Satgas PKH untuk menilai, kalau perlu kita segera cabut semuanya itu, semua izin-izinnya kita cabut, HGU-nya dan sebagainya,” ujar Prabowo.
Dalam rapat yang sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto melaporkan perkembangan penanganan karhutla kepada Presiden.
Suharyanto mengungkapkan adanya temuan pembakaran yang diduga dilakukan secara sengaja. Bahkan, dalam salah satu kasus di Jambi, aparat menangkap pelaku yang disebut melakukan pembakaran setelah mendapat bayaran.
“Memang ada upaya-upaya kesengajaan dengan cara membakar, kami menangkap itu di Jambi, ada pelaku pembakaran hutan dan memang disuruh dengan uang,” ujar Suharyanto.
