Aliansi.co, Jakarta – Suara sirene gempa bumi menggema di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Rabu siang (21/10/2026).
Para pegawai dan pengunjung yang berada di gedung bertingkat 17 lantai itu bergegas menyelamatkan diri dengan menutupi kepala menggunakan kedua tangan.
Mereka bergerak menuju tangga darurat dan turun secara tertib ke halaman kantor yang telah ditetapkan sebagai titik kumpul aman.
Selama proses evakuasi, lift tidak digunakan untuk memastikan keselamatan seluruh penghuni gedung.
Sementara itu, pegawai yang masih berada di dalam ruangan memilih berlindung di bawah meja atau merapat ke bagian dinding yang kokoh.
Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo juga terlihat keluar dari gedung sambil melindungi kepalanya dengan tangan.
Bersama Sekretaris Kota Jakarta Selatan Mukhlisin, Syafrin melewati lobi dan bergabung dengan pegawai lainnya di titik kumpul.
Namun, situasi tersebut bukan akibat gempa bumi sungguhan.
Peristiwa itu merupakan simulasi penanganan bencana yang digelar Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta.
Syafrin mengatakan, simulasi tersebut bertujuan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan pegawai, staf instansi pemerintah, serta siswa sekolah dalam menghadapi keadaan darurat akibat bencana alam.
“Seluruhnya kami imbau untuk selalu waspada dan mawas diri, mengingat bencana alam dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa diprediksi,” kata Syafrin.
Dalam simulasi tersebut, peserta terlebih dahulu memperagakan langkah perlindungan diri saat sirene pertama berbunyi.
Mereka diminta berlindung di bawah meja atau merapat ke dinding yang kokoh untuk mengantisipasi guncangan.
Ketika sirene kedua berbunyi, para pegawai segera melakukan evakuasi melalui jalur darurat menuju titik kumpul.
Selama proses tersebut, mereka diarahkan untuk tetap melindungi kepala dan tengkuk.
Petugas juga memperagakan penanganan dan penyelamatan korban luka sebagai bagian dari latihan tanggap darurat.
“Peragaan ini sekaligus melatih koordinasi antarpersonel serta memastikan prosedur penyelamatan dapat diterapkan ketika bencana benar-benar terjadi.” kata Syafrin.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi DKI Jakarta, Iwan Alex, menjelaskan bahwa simulasi tersebut dilakukan untuk menguji kesiapsiagaan penghuni dan pengelola gedung dalam menghadapi gempa bumi.
Menurutnya, kegiatan itu juga menjadi sarana evaluasi terhadap kesiapan gedung, termasuk pemanfaatan fasilitas pendukung penanganan bencana.
“Berdasarkan evaluasi pelaksanaan, simulasi dinilai berjalan dengan sangat baik dan mendapat partisipasi aktif dari seluruh penghuni gedung,” ujar Iwan.
Ia berharap latihan tersebut dapat meningkatkan kecepatan respons dan kesiapsiagaan penghuni gedung sehingga risiko bencana serta potensi jatuhnya korban jiwa dapat diminimalkan.
Iwan menambahkan, simulasi perlu dilaksanakan secara rutin di lingkungan perkantoran maupun pendidikan.
