Sabtu, Oktober 17, 2026

Jokowi Sedih Kebebasan Demokrasi jadi Ajang Menebar Kedengkian dan Fitnah

WIB

Aliansi.co, Jakarta- Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR/DPR dan DPD di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/08/2023)

Mengawali pidatonya, Jokowi menyinggung bahwa Indonesia sedang memasuki tahun politik menjelang Pemilu Serentak 2024.

Jokowi mengatakan meski belum masuk masa kampanye, namun dirinya sudah dijadikan tameng oleh beberapa capres.

Jokowi menyebut bahwa fotonya sudah banyak dipasang di mana-mana, mulai dari wilayah provinsi sampai ke desa-desa.

Baca Juga :  Tinjau Akses Evakuasi Merapi, Jokowi Ungkap Total Anggaran Bangun Jalan di Jawa Tengah

“Tapi bukan foto saya sendirian, ada di sebelahnya bacapres, menurut saya engga apa-apa, boleh-boleh saja, ” kata Jokowi dilansir dari YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (16/8/2023).

Jokowi menyatakan, posisi presiden itu tidak senyaman yang diperkirakan banyak orang.

Ia mengatakan ada tanggung jawab besar yang diemban dan banyak permasalahan rakyat yang harus diselesaikan seorang kepala negara.

Namun, kata Jokowi, dengan adanya media sosial apa pun bisa disampaikan kepada presiden.

Baca Juga :  Bertolak ke Mesir, Prabowo Tugasi Gibran Matangkan Persiapan Libur Nataru

Bahkan makian dan fitnah kepada dirinya bisa dengan mudah disampaikan lewat media sosial.

“Saya tahu ada yang mengatakan saya ini bodoh, plongak-plongok, tidak tahu apa-apa, fir’aun, tolol. Ya, ndak apa, sebagai pribadi, saya menerima saja,” kata Jokowi.

Hanya saja, kata Jokowi, dirinya sedih karena budaya santun dan budi pekerti luhur bangsa seperti sudah hilang.

Jokowi juga melihat kebebasan demokrasi saat ini jadi ajang menebar kedengkian dan fitnah.

Baca Juga :  Di KTT AZEC Tokyo, Jokowi Paparkan Panduan Menghadapi Perubahan Iklim

“Kebebasan demokrasi digunakan untuk melampisakan kedengkian dan fitnah,” bebernya.

Jokowi menghargai bahwa tidak semua masyarakat terkena polusi budaya kedengkian tersebut.

Mayoritas masyarakat, kata Jokowi, justru sangat kecewa dengan polusi budaya tersebut.

“Cacian dan makian yang ada justru membangunkan nurani bangsa untuk bersatu menjaga moralitas ruang publik sehingga kita bisa melangkah maju menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Jokowi.

Artikel Terkait

Berita Terpopuler

Lampiaskan Nafsu, Bu Guru Agama Ajak Siswanya Hubungan Badan, 2 Tahun Ketagihan 

Aliansi.co, Grobogan- Bu guru agama salah satu SMP di Grobogan, Jawa Tengah, dilaporkan ke polisi karena kasus pencabulan terhadap seorang siswanya. Guru perempuan inisial ST...

Berita Hukum

BGN Buka Suara soal Penemuan Mayat di Dapur MBG

Aliansi.co,Jakarta- Badan Gizi Nasional (BGN) buka suara soal penemuan mayat yang dikaitkan dengan dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu disampaikan BGN menyusul beredarnya informasi...

Mutasi Besar-besaran Polri, Wakabaintelkam-Kakorlantas hingga Kapolda Berganti

Aliansi.co, Jakarta – Polri kembali melakukan mutasi besar-besaran terhadap 199 personel yang terdiri dari perwira tinggi (Pati) dan perwira menengah (Pamen). Sejumlah jabatan strategis mulai...

Polri Gerebek Dua Kampung Narkoba Legendaris Jakarta, 24 Orang Diamankan

Aliansi.co, Jakarta- Polri menggerebek dua kampung legendaris yang terkenal sebagai basis peredaran narkoba di Jakarta, yakni Kampung Ambon, Jakarta Barat, dan Kampung Boncos, Jumat...

Terseret Dugaan Pemerasan dan Gratifikasi, Bupati Gowa Dijerat Pasal Berlapis

Aliansi.co, Jakarta – Bupati Gowa, HT, ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi berupa pemerasan dan/atau pungutan liar serta gratifikasi terkait pengurusan...

Kasus Pembubaran Ibadah GKPI Rajeg, Komisi III DPR Minta Polisi Transparan dan Profesional

Aliansi.co, Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI, Sarifuddin Sudding, menyoroti dugaan intimidasi dalam pembubaran kegiatan ibadah jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Mauk...