Aliansi.co Jakarta- Ruangan Dirgantara di lantai 2 Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, masih lengang pada Kamis (26/2/2026) pagi.
Kursi-kursi tersusun rapi, sementara beberapa petugas bersiap dengan peralatan laser yang akan digunakan untuk program hapus tato gratis dari Baznas (Bazis) Jakarta Selatan.
Di salah satu sudut ruangan, Putri Dwiyana (26) duduk tenang menunggu gilirannya.
Tangannya yang telah diolesi krim anestesi digenggam erat, seolah menahan campuran rasa gugup dan harap.
Sesekali, ia melirik ke arah ibunya, Sutiyani, yang setia mendampingi.
Sudah lama Putri berniat menghapus tato yang dibuatnya lima tahun lalu.
Perempuan asal Kebayoran Lama itu memiliki tato di lengan dan punggung.
Namun, dalam program ini, penghapusan hanya bisa dilakukan pada satu titik, sehingga ia memilih lengan kanan bagian tubuh yang paling sering terlihat.
“Rasanya biasa aja, enggak sakit. Kayak disetrum doang sih,” ujar Putri Dwiyana sambil tersenyum tipis usai menjalani tindakan.
Ia memahami proses penghapusan tato tidak bisa instan.
Tinta yang sudah terlanjur melekat di kulit membutuhkan beberapa kali tindakan untuk benar-benar memudar.
“Enggak langsung hilang. Yang sudah-sudah enam kali. Ya, enam tahun,” katanya.
Bagi Putri, keputusan menghapus tato bukan sekadar soal penampilan.
Ada pengalaman pahit yang terus terulang setiap kali ia melamar pekerjaan.
Ia merasa tato di tubuhnya menjadi penghalang untuk mendapatkan kesempatan kerja.
“Pengalaman saya nyari kerja susah. Nyari kerja enggak boleh,” ucapnya lirih.
Tak hanya urusan pekerjaan, tato itu juga memengaruhi kehidupan pribadinya.
Ia bercerita, hubungan asmaranya pernah kandas karena keluarga sang kekasih tidak menyukai perempuan bertato.
Stigma “cewek nakal” melekat begitu saja.
