Aliansi.co, Jakarta- Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto Emik mengkritisi beredarnya dua video dari akun TikTok Pencari Keadilan yang menuding Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta, Chaidir, terlibat dalam praktik jual beli jabatan dan isu lainnya.
Sugiyanto menilai, pola penyebaran konten tersebut menunjukkan adanya dugaan upaya untuk merusak reputasi Chaidir sebagai pejabat senior di Pemprov DKI.
Sugiyanto mengaku langsung mengkonfirmasi konten tersebut kepada Chaidir melalui sambungan telepon.
“Saya langsung menanyakan isu itu kepada Bang Chaidir setelah melihat video di TikTok dan beberapa pemberitaan online. Saya ingin memastikan kebenarannya,” kata Sugiyanto, Jumat (28/11/2025).
Dalam percakapan itu, Chaidir dengan tegas menolak seluruh isi tuduhan tersebut.
Menurut Chaidir, narasi yang beredar tidak memiliki dasar dan termasuk informasi bohong atau hoaks.
Sugiyanto menilai cara penyajian tuduhan tersebut sengaja menggunakan istilah “dugaan” agar pembuat konten tidak mudah dijerat pidana pencemaran nama baik.
“Pembuat konten pandai bermain aman dengan menggunakan kata ‘dugaan’ agar tidak mudah dijerat pencemaran nama baik. Padahal substansi yang mereka dorong jelas mengarah pada pembentukan opini negatif,” bebernya.
Ia menyebut strategi itu sering digunakan untuk memanfaatkan celah hukum sekaligus menciptakan persepsi negatif terhadap target pemberitaan.
Menurutnya, pola tersebut menunjukkan adanya indikasi upaya sistematis untuk menurunkan reputasi Kepala BKD DKI Jakarta
“Melihat penyajiannya, saya menduga target mereka hanya satu: menempelkan citra buruk kepada Bang Chaidir,” jelas SGY, sapaannya.
Penegasan Jalahoaks
Portal resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jalahoaks, pada 25 November 2025 menetapkan unggahan TikTok tersebut sebagai disinformasi dan mengkategorikannya sebagai konten buatan (fabricated content).
Dalam laporan itu dijelaskan bahwa video yang menarasikan adanya skandal dan jual beli jabatan di BKD DKI sama sekali tidak sesuai dengan prosedur formal pengelolaan kepegawaian di lingkungan Pemprov DKI.
Hasil koordinasi Tim Jalahoaks dengan Chaidir menegaskan bahwa isi video tidak kontekstual dengan proses pengangkatan, pemindahan, maupun pemberhentian pegawai.
Chaidir juga mengaku telah melaporkan unggahan tersebut kepada kepolisian untuk diproses secara hukum.
Dugaan Motif di Balik Tuduhan
Melihat pola penyebaran informasi, Sugiyanto menduga kuat tujuan utama pembuat konten adalah merusak citra positif Chaidir sebagai Kepala BKD DKI Jakarta.
Sugiyanto menilai ada dua langkah yang dapat ditempuh dalam menghadapi tuduhan semacam ini.
“Membiarkannya mereda dengan sendirinya atau menempuh jalur hukum. Namun langkah sepenuhnya di tangan Bang Chaidir sebagai pihak yang dirugikan,” tandasnya.
