Aliansi.co, Bogor- Presiden Prabowo Subianto menyinggung keberadaan para pakar yang dinilai pandai berbicara dan memiliki banyak gelar akademik, tetapi tidak selalu selaras dengan kenyataan di lapangan.
Menurut Prabowo, dalam memimpin bangsa, pendekatan yang terlalu idealis tidak selalu dapat diterapkan karena dunia berjalan berdasarkan realitas, bukan teori semata.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan pengarahan dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Dalam pidato pembukaannya, Prabowo terlebih dahulu menyampaikan rasa hormat dan kebanggaannya dapat hadir dalam forum nasional yang dihadiri para pemimpin daerah dari seluruh Indonesia.
“Suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya untuk bisa hadir dalam acara istimewa ini, bertemu dengan Saudara-saudara semuanya dari seluruh penjuru tanah air,” ujar Prabowo dilansir dari kanal YouTube Setpres, Selasa (3/2/2026).
Ia mengaku terharu melihat semangat para peserta Rakornas yang menurutnya menjadi modal penting bagi masa depan bangsa.
“Hati saya bergetar melihat, mendengar, dan merasakan semangat Saudara-saudara sekalian. Kalau semangat Saudara sungguh-sungguh berasal dari kalbu Saudara-saudara sekalian yang paling dalam, masa depan bangsa kita, saya yakin aman dan saya yakin kita akan berhasil,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo kemudian menyinggung peran para pakar dan akademisi.
Ia menegaskan bahwa dirinya menghormati para ahli yang memiliki kecerdasan dan latar belakang pendidikan tinggi.
Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan negara tidak bisa dilepaskan dari kondisi nyata yang dihadapi bangsa.
“Dengan segala hormat kepada para pakar yang pandai dan pintar, yang punya banyak gelar, saya hormati mereka. Tapi dunia ini adalah keadaan nyata, bukan keadaan ideal,” ucap Prabowo.
Menurut dia, realitas global menunjukkan bahwa kekuatan masih menjadi faktor dominan dalam hubungan antarnegara maupun dalam dinamika internasional.
“Saya selalu mengingatkan, yang berlaku di dunia ini sekarang adalah yang kuat akan berbuat apa yang mereka kehendaki, yang lemah akan menderita. Itu yang kita lihat hari ini, kita lihat di mana-mana,” ujarnya.
Prabowo menegaskan, sebagai presiden yang memegang amanat rakyat, tanggung jawab utamanya adalah menjaga keselamatan bangsa dan melindungi rakyat, meski hal itu tidak selalu mudah untuk dijalankan.
“Jadi, Saudara-saudara, tugas saya sebagai presiden, sebagai pemegang kepercayaan rakyat yang disumpah, saya harus menjaga bangsa ini, saya harus menjaga rakyat ini. Kadang-kadang gampang untuk kita bilang, gampang kita ngomong, tapi tidak gampang untuk dilaksanakan,” kata Prabowo.
Ia menambahkan, dalam menjalankan pemerintahan, pemimpin dituntut untuk mampu menahan gejolak emosi dan tidak terjebak pada sikap yang terlalu idealis.
“Kadang-kadang hati kita bergejolak, tapi kita harus senyum, karena kita sudah memilih akan baik sama semua, untuk melindungi rakyat kita. Kita tidak bisa emosional, kita tidak bisa terlalu idealis, karena yang berlaku adalah dunia nyata,” pungkasnya.
