Aliansi.co,Jakarta- Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar turun langsung menyembelih hewan kurban pemberian Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di halaman Masjid Darul Jannah, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Kamis (28/5).
Didampingi Ketua Panitia Kurban Sayid Ali, Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Selatan Muklisin, sapi jenis limosin dengan bobot mencapai 1,1 ton itu disembelih langsung oleh Anwar menggunakan golok andalan jenis Sorenan Betawi yang telah disiapkan panitia.
Tak butuh waktu lama, sapi bantuan Presiden Prabowo tersebut berhasil disembelih usai direbahkan menggunakan alat bantu oleh petugas panitia kurban.
Sapi bantuan Presiden itu menjadi hewan kurban terakhir yang dipotong dalam rangkaian penyembelihan hewan kurban di lingkungan Kantor Wali Kota Jakarta Selatan tahun ini.
Anwar mengatakan, pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Selatan tahun ini mencapai 31 ekor sapi dan 60 ekor kambing atau domba.
“Sapi terakhir dipotong itu pemberian RI 1 dan yang memotong kebetulan saya sendiri. Memang afdalnya, seperti yang sudah disampaikan, apabila berkurban sebaiknya yang memotong adalah yang bersangkutan langsung. Semoga Bapak Presiden sehat, panjang umur, dan berkah bagi kami yang melaksanakannya,” ujar Anwar usai menyembelih sapi kurban.
Ia menuturkan, proses pemotongan hingga penyaluran daging kurban dilakukan secara higienis dan memperhatikan aspek lingkungan.
Daging kurban dikemas menggunakan bongsang, sementara limbah seperti darah dan jeroan langsung dikubur untuk mencegah pencemaran lingkungan.
Anwar menambahkan, pihaknya menyiapkan sebanyak 2.500 paket daging kurban yang akan dibagikan kepada mustahik, PJLP, serta pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Selatan.
“Terkait dagingnya, jika ada terindikasi negatif, maka akan kita periksa dulu untuk memastikan dagingnya sehat dan bisa dibagikan. Jangan sampai niat baik kita berkurban, justru kita berikan daging yang tidak sehat sehingga berdampak pada penyakit bagi keluarga mereka,” bebernya.
Ia berharap, tata cara pemotongan hewan kurban yang diterapkan di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan dapat terus dijalankan dan menjadi contoh bagi masyarakat, khususnya dalam pengelolaan limbah agar tidak mengganggu lingkungan sekitar.
“Kalau kita larang total, saya kira ini adalah tradisi ya, susah. Artinya, kebiasaan baik ini kita bungkus dengan hal yang baik juga, kebiasaan yang lebih baik lagi, bagaimana meningkatkan kualitas pemotongannya, baik dagingnya maupun pengelolaan limbahnya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan, Ridho Sosro menjelaskan, hasil pemeriksaan hewan kurban baik antemortem maupun postmortem di lokasi pemotongan hanya menemukan sekitar 1,5 bagian hati sapi yang harus diafkir karena terindikasi cacing hati atau Fasciola hepatica.
“Jadi, kita periksa hewan kurban itu dari mereka masih hidup, terkait fisik dan lainnya. Kemudian, saat mati, kita periksa organnya, mulai dari hati, paru dan lainnya. Intinya kita pastikan ini layak semuanya untuk dikonsumsi,” tandasnya.
