Aliansi.co, Jakarta- Pemerintah Kota Jakarta Selatan (Pemkot Jaksel) mengapresiasi kegiatan sepeda santai beratribut budaya dalam rangkaian Festival Dewan Kota Jakarta Selatan 2025.
Sepeda santai ini berhasil memecahkan rekor Original Rekor Indonesia (ORI) dengan melibatkan 1.280 peserta yang mengenakan atribut budaya lokal.
Kegiatan sepeda santai ini dilepas langsung oleh Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Ali Murthadho, pada Minggu pagi (24/8/2025) dari halaman Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.
“Harapannya tentu di tahun yang akan datang kegiatan ini lebih semarak dan melibatkan lebih banyak lagi unsur masyarakat, sehingga selain membahagiakan warga, festival ini juga akan menggerakan perekonomian yang sangat signifikan,” ujar Ali Murthadho, Senin (25/8/2025).
Sepeda santai ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Dewan Kota Jakarta Selatan yang berlangsung selama dua hari, 23–24 Agustus 2025.
Para peserta menempuh rute yang mengelilingi Jalan Layang Non Tol (JLNT) Antasari hingga kawasan Cipete, sebelum kembali ke titik awal.
Seluruh peserta tampil mengenakan pakaian bercukin khas Betawi dan ikat kepala merah putih, menciptakan suasana semarak bernuansa budaya.
Ketua Dewan Kota Jakarta Selatan, Farid Rahman menjelaskan, kegiatan ini menjadi sarana edukasi untuk mengenalkan peran dan tugas Dewan Kota kepada masyarakat.
“Kami ingin memperkenalkan peran Dewan Kota kepada masyarakat, salah satunya melalui sepeda santai. Dewan Kota adalah mitra pemerintah sekaligus jembatan antara masyarakat dengan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah,” kata Farid saat ditemui di lokasi, Minggu (24/8/2025).
Farid juga menyampaikan rasa bangganya atas capaian pemecahan rekor ORI yang diraih melalui kegiatan ini.
“Rekor ORI ini ditetapkan untuk kategori peserta sepeda santai dengan atribut budaya terbanyak. Ini bentuk nyata kolaborasi antara budaya dan gaya hidup sehat,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Festival Dewan Kota, Ahmad Kurtubi, menyebutkan bahwa festival tahun ini mengusung semangat inklusif dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat dari berbagai usia dan komunitas.
“Kami ingin festival ini menjadi ajang inklusif yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ada juga lomba fotografi bertema budaya dan kebersamaan yang menyasar remaja dan mahasiswa,” jelas Kurtubi.
