Aliansi.co,Jakarta- Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Selatan mengimbau warga untuk mewaspadai dampak konsumsi ikan sapu-sapu yang dinilai berpotensi membahayakan kesehatan.
Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan, M Anwar mengatakan, masyarakat perlu lebih selektif dalam mengonsumsi makanan, terutama yang tidak jelas asal-usul bahan bakunya.
Ia mengingatkan, ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar berisiko mengandung zat berbahaya.
“Saya khawatir masyarakat yang tidak mengetahui asal-usulnya tetap mengonsumsi. Dampaknya mungkin tidak langsung terasa, tetapi bisa muncul dalam dua hingga tiga tahun ke depan,” ujar Anwar dalam keterangannya, Sabtu (18/4/2026).
Anwar menjelaskan, ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif yang banyak ditemukan di kali dan sungai Jakarta Selatan.
Selain merusak ekosistem, ikan tersebut juga kerap hidup di perairan dengan tingkat pencemaran tinggi.
Pemkot Jakarta Selatan sebelumnya juga telah menggelar operasi penangkapan ikan sapu-sapu secara serentak di 10 kecamatan.
Dalam operasi tersebut, petugas menargetkan penangkapan hingga lima ton ikan untuk mengendalikan populasinya.
Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan, Ridho Sosro menjelaskan, pihaknya akan terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya konsumsi ikan sapu-sapu.
“Ke depan, kami akan memperkuat sosialisasi agar masyarakat memahami bahwa ikan ini berpotensi mengandung logam berat seperti merkuri dan timbal,” kata Ridho.
Ia menambahkan, dalam jangka pendek, penangkapan ikan sapu-sapu akan terus dilakukan secara intensif dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari petugas PPSU, Dinas Lingkungan Hidup, hingga komunitas warga.
“Hal ini dikarenakan kandungan logam berat seperti merkuri dan timbal di dalam tubuh ikan sapu-sapu sangat tinggi,” tandasnya.
