Aliansi.co,Jakarta- Upaya menekan aksi tawuran remaja dinilai tidak cukup hanya mengandalkan penindakan.
Peran keluarga dan lingkungan sekitar menjadi kunci untuk mendeteksi potensi konflik sejak dini sekaligus mencegah anak terjerumus dalam aksi kekerasan.
Hal itu disampaikan Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Firmanuddin Ibrahim dalam Forum Diskusi yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).
Dalam forum diskusi bertajuk “Ngobrol Pintar Cegah Tawuran” (Ngopi Cetar) ini, turut hadir Ketua Dewan Kota Jakarta Selatan Farid Rahman.
“Media sosial yang sejatinya diciptakan sebagai alat komunikasi kini menjelma menjadi pedang bermata dua,” ujar Firmanuddin.
Firmanuddin mengatakan, fenomena tawuran saat ini tidak hanya menimbulkan luka fisik hingga merenggut nyawa, tetapi juga berpotensi merusak moral dan masa depan generasi muda.
Dia mengungkapkan, media sosial dapat menjadi ruang munculnya berbagai pengaruh negatif apabila tidak diimbangi dengan pengawasan dan pendampingan yang memadai.
Karena itu, upaya deteksi dini tidak boleh hanya dilakukan di ruang digital.
“Deteksi dini di ruang digital tidak akan berjalan optimal tanpa adanya ketahanan dari lingkungan terdekat,” katanya.
Ia menekankan keluarga harus menjadi benteng utama dalam mencegah anak terlibat tawuran.
Orang tua juga memiliki peran penting dalam membangun komunikasi, memberikan pendampingan, sekaligus mengenali perubahan perilaku anak.
Dalam konteks gerakan “Jaga Jakarta”, dia meminta pencegahan dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan keluarga, pengurus lingkungan, dan berbagai sektor terkait.
“Gerakan ‘Jaga Jakarta’, pencegahan mendasar harus dimulai dari tingkat keluarga sebagai benteng utama pertahanan anak,” ujarnya.
Dia juga meminta pengurus lingkungan bersama masyarakat memperkuat pemetaan terhadap lokasi yang berpotensi menjadi titik rawan konflik.
“Saya minta peran orang tua, pengurus lingkungan dan sinergitas lintas sektor menjadi motor penggerak untuk memetakan titik rawan konflik,” kata Firmanuddin.
Menurut dia, pemetaan dan deteksi dini tersebut penting agar potensi tawuran dapat segera diantisipasi sebelum berkembang menjadi aksi kekerasan.
“Sehingga, antisipasi terkait tawuran bisa dicegah sejak dini,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Subkelompok Kewaspadaan Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jakarta Selatan Shindy Pranata Umar mengatakan, forum Ngopi Cetar diikuti 50 peserta.
Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari forum tingkat kota, Duta Purna Paskibraka Indonesia, Karang Taruna, lembaga kemasyarakatan, hingga perwakilan pengurus lingkungan se-Kecamatan Pancoran.
Shindy mengatakan, pelibatan berbagai elemen tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi dalam mencegah tawuran.
Menurutnya, persoalan tawuran membutuhkan keterlibatan bersama karena berkaitan dengan kondisi sosial dan lingkungan tempat remaja tumbuh.
“Semoga dengan forum diskusi ini upaya pencegahan tawuran sejak dini bisa lebih cepat dan terarah,” tandasnya. RT
