Aliansi.co, Jakarta- Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto Emik menilai pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo merupakan sikap kenegarawanan yang layak diapresiasi dan patut dijadikan teladan bagi para pemimpin, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Menurut Sugiyanto, pernyataan Gubernur Pramono menunjukkan kedewasaan dalam memandang kepemimpinan.
“Pernyataan Gubernur Pramono sangat layak mendapat apresiasi tinggi dan pantas menjadi teladan bagi masyarakat Jakarta maupun rakyat Indonesia,” ujar Sugiyanto, Jumat (12/12/2025).
Pria berkacamata yang biasa disapa SGY ini mengungkapkan, apresiasi tersebut setelah ia melihat unggahan video pernyataan Gubernur Pramono yang muncul di beranda Facebook pribadinya.
Dalam video tersebut, Gubernur Pramono menyampaikan pandangan yang dinilai sarat makna tentang esensi kepemimpinan.
Ia menegaskan bahwa tugas pemimpin bukan sekadar membuat kebijakan baru untuk meninggalkan jejak pribadi, melainkan menyelesaikan persoalan yang diwariskan oleh pemimpin sebelumnya.
“Masalah bangsa ini salah satunya adalah setiap pergantian gubernur atau pemimpin, selalu ingin namanya tercatat melalui proyek atau kebijakan baru. Bagi saya tidak demikian. Tugas saya adalah menyelesaikan persoalan yang tertunda dari para gubernur sebelumnya,” ujar Pramono.
Sugiyanto menyebut pernyataan tersebut sebagai pesan mendalam yang menyentuh dan memberikan harapan.
“Ini bukan hanya ungkapan, tapi cermin dari pemimpin yang matang dan bertanggung jawab. Beliau memberi contoh bahwa pemerintahan itu keberlanjutan, bukan penghapusan jejak pendahulu,” tutur Sugiyanto.
Menuntaskan Masalah Warisan Para Gubernur
Dalam penjelasannya, Gubernur Pramono mengurai sejumlah persoalan yang ia tuntaskan melalui komunikasi dengan para mantan Gubernur DKI Jakarta.
Pramono menuturkan pengalamannya saat bertemu mantan Gubernur Sutiyoso (Bang Yos).
Ia menanyakan apa yang masih menjadi harapan Bang Yos untuk dituntaskan.
“Monorail, itu mengganggu saya. Jalan Rasuna Said, bisa nggak kamu selesaikan?” demikian ucapan Bang Yos yang ditirukan Pramono.
Pramono menyebut bahwa ia telah mengurus persoalan tersebut secara intens.
“Setelah hampir enam bulan bekerja, penyelesaiannya rampung. Pembangunan yang berkaitan akan mulai dibongkar pada Januari 2025,” jelasnya.
Pramono juga berkisah tentang pertemuannya dengan Gubernur periode 2017–2022, Anies Rasyid Baswedan.
Salah satu yang menurutnya penting adalah Jakarta International Stadium (JIS).
“JIS ini bagus, tapi tanpa dukungan sistem transportasi yang memadai, justru bisa jadi masalah,” katanya.
Karena itu, Pramono mendatangi Kementerian Perhubungan untuk meminta agar KRL dapat berhenti di bawah kawasan JIS.
“Alhamdulillah disetujui. Dalam beberapa minggu ke depan KRL sudah bisa berhenti di sana,” lanjutnya.
Ia juga memaparkan rencana pembangunan jembatan sepanjang 350 meter yang menghubungkan JIS dengan Ancol—proyek yang selama bertahun-tahun tertunda akibat ego sektoral antarinstansi.
Terkait legasi Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Pramono memberi perhatian pada penataan Kalijodo dan persoalan Rumah Sakit Sumber Waras (RSSW).
“Kalijodo yang dulu tempat maksiat, pada masa Pak Ahok sudah berubah jadi ruang publik. Tapi karena tidak dilanjutkan, kondisinya kembali buruk. Sekarang saya kembalikan lagi fungsinya sebagai ruang terbuka yang aman dan layak,” ucap Pramono.
Untuk masalah RSSW, ia menegaskan pentingnya penyelesaian hukum yang telah berlarut selama satu dekade.
“Kalau tidak diselesaikan, selalu ada potensi pihak yang nanti menjadi tersangka. Ini harus dituntaskan dengan cara elegan,” tegasnya.
Sugiyanto menilai sikap Pramono sebagai wujud kepemimpinan yang matang, visioner, dan jauh dari ambisi pribadi.
“Beliau menunjukkan bahwa pemimpin sejati tidak mengejar popularitas atau legasi pribadi. Fokusnya adalah menyelesaikan masalah, bukan menciptakan masalah baru,” tambah Sugiyanto.
Ia juga mengajak masyarakat Jakarta bersyukur memiliki pemimpin yang bekerja dengan tulus.
“Pramono itu baik hati, peduli, cerdas, lugas, visioner, dan fokus. Jakarta butuh pemimpin seperti ini,” tegasnya.
Sugiyanto menutup pernyataannya dengan doa agar Gubernur DKI Jakarta diberi kekuatan dalam menjalankan amanah.
“Semoga Gubernur Pramono Anung Wibowo senantiasa diberi kesehatan dan kemudahan dalam menjalankan tugas-tugas besar untuk Jakarta. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin,” ujarnya.
