Aliansi.co, Jakarta- Langit siang itu cerah di Pondok Indah, Kelurahan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Matahari memantul di aspal Jalan Metro Pondok Indah, sementara laju kendaraan mengalir padat tanpa jeda.
Klakson bersahutan, roda berdesing.
Bagi pejalan kaki, satu langkah yang keliru bisa berujung senggolan dengan kendaraan yang melintas rapat di tepi jalan.
Di sisi jalan itulah trotoar membentang.
Sekilas tampak rapi, namun langkah kaki yang menyusurinya segera menangkap kejanggalan.
Susunan paving block abu-abu muda yang biasanya seragam, tiba-tiba terputus oleh pola lain.
Ukurannya lebih besar, warnanya sedikit berbeda, seolah menjadi tambalan yang sengaja dibiarkan terlihat.
Trotoar ini memang tak lagi sepenuhnya mulus-bukan hanya secara fisik, tapi juga dalam ceritanya.
Trotoar di kawasan ini sebelumnya sempat dibongkar tanpa izin untuk akses kendaraan sebuah hotel.
Kini, meski sudah diperbaiki, bekas pembongkaran itu masih menyisakan jejak tentang ruang pejalan kaki yang sempat terabaikan.
Pantauan di lokasi, Selasa (9/2/2026), trotoar berada tepat di tepi jalan aspal dengan pembatas kanstin hitam-putih.
Sebagian besar permukaannya menggunakan paving block persegi panjang yang tersusun rapi, khas jalur pedestrian kawasan elite.
Namun, di satu titik, material konblok berukuran lebih besar tampak menonjol.
Polanya tak serasi dengan sekitarnya, seolah menjadi penanda sunyi bahwa area itu baru saja “ditambal” setelah sesuatu yang tak beres terjadi sebelumnya.
Cerita trotoar ini tak berhenti pada urusan material.
Di sisi kiri jalur pejalan kaki berdiri pagar seng proyek yang ditopang balok-balok kayu.
Gulungan kabel dan tiang utilitas berada tak jauh dari lintasan kaki. Ruang berjalan pun menyempit.
Pejalan kaki mau tak mau harus melambat, menyesuaikan langkah, bahkan sesekali turun mendekati badan jalan demi menghindari halangan.
