Aliansi.co, Jakarta- Presiden Prabowo Subianto mengaku sempat diejek sejumlah profesor saat pertama kali meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia mengatakan, bahkan kalangan terdidik meragukan program tersebut dan memprediksi akan gagal.
Hal itu disampaikan Prabowo saat meresmikan dan melakukan groundbreaking 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta meresmikan 18 gudang ketahanan pangan Polri di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (13/2/2026).
“Waktu saya melancarkan program ini saya diejek, dijelek-jelekkan, saya dituduh macam-macam. Bahkan yang banyak mengejek adalah orang-orang yang terdidik. Profesor-profesor terkenal mengejek dan menghina saya, dan mereka meramalkan proyek ini pasti gagal,” ujar Prabowo.
Menurut dia, tudingan bahwa program tersebut hanya menghambur-hamburkan anggaran negara hingga dianggap sebagai bagian dari kepentingan politik merupakan hal yang menyedihkan.
Ia menilai, serangan terhadap kebijakan yang menyasar masyarakat kurang mampu tidak sepatutnya terjadi.
“Mungkin sebagai ungkapan dendam dan dengki itu biasa. Tetapi sesuatu yang menyerang hal yang sangat diperlukan oleh orang-orang yang belum kuat ekonominya sungguh-sungguh menyedihkan bagi saya,” kata dia.
Meski menghadapi kritik, Prabowo mengaku tetap yakin berada di jalur yang benar.
Ia menilai program makan bergizi gratis merupakan langkah konkret untuk mengatasi persoalan stunting yang sempat menyentuh angka 25 persen anak Indonesia.
“Saya yakin waktu itu saya berada di atas jalan yang benar. Terlalu banyak anak-anak Indonesia mengalami stunting,” ujarnya.
Prabowo menjelaskan, stunting merupakan kondisi kekurangan gizi yang berdampak pada terhambatnya perkembangan sel tubuh, termasuk sel otak dan tulang.
“Stunting itu adalah kurang gizi. Kurang gizi ini yang mengakibatkan sel-sel kita tidak bisa berkembang dengan baik, sel otak tidak bisa berkembang dengan baik, sel tulang tidak bisa berkembang dengan baik,” kata Prabowo.
Ia menambahkan, penanganan stunting tidak cukup hanya melalui teori atau program di atas kertas, melainkan membutuhkan intervensi langsung dari pemerintah kepada anak-anak, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
“Kita tidak bisa dengan teori, tidak bisa hanya dengan kata-kata, tidak hanya dengan program-program indah. Saya belajar dari pengalaman bangsa-bangsa lain bahwa memang satu-satunya jalan adalah intervensi langsung dari pemerintah,” tutur dia.
