Aliansi.co,Jakarta- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyiapkan anggaran sekitar Rp249 miliar untuk mempercepat penanganan empat gedung sekolah dengan kondisi paling kritis tahun ini.
Anggaran tersebut akan digunakan untuk pekerjaan konstruksi, jasa konsultansi, hingga kebutuhan sewa angkut dan gudang selama proses rehabilitasi.
Hal itu disampaikan Pramono saat meninjau kondisi SDN Kebayoran Lama Selatan 09, Jakarta Selatan, yang menjadi salah satu sekolah dengan tingkat kerusakan paling parah dan membutuhkan rehabilitasi total.
Selain SDN Kebayoran Lama Selatan 09, tiga lokasi lain yang masuk prioritas penanganan yakni SDN Kebayoran Lama Selatan 11, SMAN 102 Jakarta, SDN Cempaka Putih Barat 03, serta SDN Papanggo 01 bersama TK Negeri Papanggo 01.
“Total anggaran adalah kurang lebih Rp249 miliar. Empat sekolah ini yang kita akan mulai pembangunannya,” kata Pramono, Jumat (24/7/2026).
Berdasarkan data Dinas Pendidikan DKI Jakarta, lanjut Pramono, terdapat 22 sekolah yang telah memperoleh rekomendasi teknis untuk direhabilitasi total.
Dari jumlah tersebut, tujuh sekolah telah mendapatkan alokasi pendanaan melalui APBD 2026–2027.
Namun, empat sekolah dengan tingkat kerusakan paling berat akan dipercepat penanganannya pada tahun ini.
“Untuk SDN Kebayoran Lama Selatan 09 dan SDN Kebayoran Lama Selatan 11, dengan skema regrouping atau penggabungan lokasi sekolah. Kebutuhan anggarannya sekitar Rp48,15 miliar,” kata dia.
Dia mengatakan, pembangunan sekolah akan mengoptimalkan pendanaan melalui APBD Perubahan serta sumber pendanaan non-APBD.
Pramono menegaskan pembangunan sekolah juga harus dikerjakan oleh pihak yang memiliki kompetensi dan rekam jejak yang baik.
Menurutnya, kualitas bangunan tidak boleh dikompromikan karena berkaitan langsung dengan keselamatan peserta didik, guru, dan seluruh warga sekolah.
“Saya minta betul dalam hal ini yang diputuskan, ditunjuk untuk membangun orang yang memang profesional untuk itu,” kata Pramono.
Ia menegaskan tidak ingin proses pembangunan yang telah diupayakan dengan susah payah justru menghasilkan bangunan yang tidak dikerjakan secara maksimal.
“Karena saya tidak mau pembangunan yang diupayakan tidak gampang ini kemudian misalnya tidak dikerjakan secara sungguh-sungguh,” ujarnya.
