Memutilasi Korban
Usai berpesta miras, Husen kembali pulang ke kios depot air minum isi ulang pada Jumat (5/5/2023) pagi.
Menjelang subuh, Husen memutilasi korban menjadi beberapa bagian.
Ia memotong kepala, lengan, dan kaki menggunakan pisau dapur yang ditemukannya di dalam kios.
“Sekitar jam 4 pagi (Jumat) saya masuk lagi, saya mulai eksekusi (mutilasi) lagi, terus saya masukin ke dalam karung warna putih,” katanya tanpa rasa bersalah.
Ia pun menyeret jasad korban ke samping setelah selesai memutilasinya di ruang tengah.
Tersangka menyeretnya dengan kondisi tanpa kepala dan lengan kiri kanan.
Usai memutilasi korban, Husen kemudian kembali menemui Imam.
Berbekal uang dan sepeda motor milik bosnya, keduanya pun berangkat ke daerah Banjarsari, Kota Semarang.
Lalu mereka memesan dua pekerja seks komersial (PSK) lewat aplikasi MiChat dengan tarif Rp300.000 untuk sekali kencan.
“Saya butuh buat hidup, juga senang-senang buat ngurangin beban pikiran,” kata Husen.
Keesokan harinya, tepatnya Sabtu (6/5/2023), Husen pun kembali ke kios untuk mengecor potongan tubuh korban.
Dirinya kemudian menggali lubang persis di samping kios dan memasukkan potongan tubuh korban ke dalamnya.
Selanjutnya, Husen mengecor lubang tersebut menggunakan satu sak semen yang sebelumnya diambil dari rumah korban di daerah Sumurbroto.
“Soalnya di sana jarang ada yang akses, kecuali saya. Di situ kemarin (jasadnya) ditimbun dan diberi semen. Selang sekitar satu harian, Sabtunya dicor,” terang Husen.
Usai mengecor jasad bosnya, ia mencoba menghilangkan jejak dengan membuang barang bukti termasuk karpet tempat tidur dan tas milik korban.
Kemudian menutupi lubang yang sudah dicor tersebut dengan menggunakan perabotan.
Selanjutnya, Husen berpamitan ke rekannya yang bernama Yuli untuk pulang ke kampung halaman di Banjarnegara.
Namun ternyata ia bersembunyi di rumah temannya bernama Feri dan merahasiakan aksi kejinya tersebut.
