Ada banyak cerita yang tertinggal selama masa pengabdiannya di Jakarta Selatan.
Ia mengaku tidak mudah mengucapkan salam perpisahan karena terlalu banyak kenangan, perjuangan, tawa, hingga lelah yang telah dilalui bersama para pegawai.
“Bagi saya, Jakarta Selatan tidak sekadar tempat bekerja dan mengabdi, tetapi sudah seperti rumah. Semua di sini sudah saya anggap sebagai keluarga,” katanya.
Di tengah sambutannya, suara Anwar beberapa kali bergetar.
Ia tampak berusaha menahan tangis saat mengenang kebersamaan dengan seluruh jajaran Pemerintah Kota Jakarta Selatan.
“Saya akan mengingat setiap kenangan, setiap kerja sama, dan setiap doa yang menguatkan langkah saya,” ucapnya sambil menyeka air mata dengan tisu yang diberikan sang istri.
Bagi Anwar, kedekatannya dengan para pegawai bukan sekadar hubungan formal antara atasan dan bawahan.
Ia merasa tumbuh dan berjuang bersama mereka.
“Saya merasa sebagai bagian dari mereka. Ini adalah keluarga besar saya. Waktu satu tahun terasa seperti sepuluh tahun di Jakarta Selatan. Artinya kami sudah saling menjiwai, seolah-olah kami satu darah,” tutur Anwar.
Ia lalu mengibaratkan hubungan itu seperti jari-jari tangan yang saling terhubung.
“Ibarat jari, jika satu bagian sakit, bagian lainnya pun turut merasa sakit. Itulah sebabnya saya merasa sangat berat untuk pergi,” kata dia.
Meski demikian, Anwar menyadari masa jabatannya memang telah usai berdasarkan Surat Keputusan (SK) yang diterimanya.
Di tengah suasana haru itu, Anwar masih sempat melontarkan cerita ringan yang membuat beberapa pegawai tersenyum.
Ia mengaku hingga beberapa saat sebelum meninggalkan kantor, dirinya masih diminta menandatangani dokumen gaji pegawai.
“Tadi pun saat saya di pintu hendak pulang, saya masih diminta untuk menandatangani dokumen gaji. Alhamdulillah,” ujar Anwar disambut tawa dan tepuk tangan.
