Aliansi.co, Jakarta- Polisi menyelidiki insiden ambruknya tembok pembatas rumah mewah setinggi sekitar lima meter yang menimpa area SMPN 182 Jakarta di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (15/2/2026).
Kapolsek Pancoran, Kompol Mansur, mengatakan proses penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan ada atau tidaknya unsur kelalaian dari pihak pemilik tembok.
“Terkait dengan ada unsur kesengajaan atau tidaknya, saat ini sedang proses penyelidikan ya,” ujar Mansur kepada wartawan di SMPN 182 Jakarta, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (16/2/2026).
Menurut dia, penyidik tengah mendalami berbagai keterangan, termasuk fakta bahwa pihak sekolah sebelumnya telah melayangkan surat pemberitahuan terkait kondisi tembok yang dinilai membahayakan.
Bersurat ke Pemilik Rumah
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 182 Jakarta, Narwan, menjelaskan bahwa pihak sekolah telah mengirim surat kepada pemilik bangunan rumah mewah yang berbatasan langsung dengan sekolah tersebut pada 24 Desember 2025.
Surat itu berisi pemberitahuan bahwa tembok pembatas setinggi sekitar tiga meter dalam kondisi miring dan rawan ambruk.
Surat tersebut juga ditembuskan ke pihak kelurahan setempat.
“Sebelumnya sekolah sudah bersurat agar menjadi perhatian temboknya untuk dibetulkan atau gimana caranya biar tidak menimbulkan masalah,” kata Narwan di lokasi.
Tembok yang ambruk itu diketahui menjadi pembatas antara area sekolah dan sebuah rumah mewah yang pembangunannya mangkrak.
Rumah dua lantai bergaya klasik dengan tiang-tiang pilar tinggi tersebut tampak kosong saat kejadian.
Bangunan bercat putih itu terlihat kontras dengan deretan rumah lain di sepanjang Jalan Kalibata Timur I, Pancoran, Jakarta Selatan.
Pilar tinggi tampak berdiri di bagian depan dan samping bangunan, namun proyek rumah tersebut belum rampung dan tidak berpenghuni.
Narwan mengatakan, setelah menerima surat dari sekolah, pemilik rumah sempat menindaklanjuti dengan mengirim tenaga ahli untuk mengecek kondisi struktur tembok.
“Kalau dari pihak yang punya (tembok) sudah mengirimkan ahlinya ya untuk mengecek struktur bangunan itu. Eksekusinya yang belum,” ujar Narwan.
Namun hingga tembok tersebut roboh, perbaikan yang diminta pihak sekolah tidak kunjung dilakukan.
Akibat kejadian itu, sejumlah fasilitas sekolah mengalami kerusakan.
Meski demikian, Narwan menyebut telah ada kesepakatan antara pihak sekolah dan pemilik tembok terkait tanggung jawab kerugian.
“Pihak sekolah dirugikan dan kemarin sudah terjadi kesepakatan. Pihak yang punya pagar itu sanggup untuk mengganti kerusakan yang ada, sambil saya menginventaris barang-barang apa yang menjadi korbannya,” ungkap dia.
