Aliansi.co, Jakarta- Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengaku sempat dibuat pusing oleh pernyataan keliru Dinas Bina Marga DKI Jakarta terkait anggaran pembongkaran tiang monorel yang disebut mencapai Rp 100 miliar.
Pernyataan tersebut sempat menimbulkan kegaduhan di publik.
Hal itu disampaikan Rano Karno saat memberikan sambutan dalam acara ERP Fusion PAM Jaya di Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026).
Ia menekankan pentingnya kehati-hatian jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menyampaikan informasi ke publik, terutama yang berkaitan dengan anggaran.
Menurut Rano, kesalahan penyampaian informasi bisa berdampak luas dan memicu polemik yang tidak perlu.
“Cuman salah ngomong Bina Marga, ‘anggaran Rp 100 miliar’. Makanya kemarin saya wanti-wanti, yang bukan bagiannya jangan statement. Dibilang anggaran Rp 100 miliar, pusing kita nahan,” kata Rano, dikutip Senin (19/1/2026).
Rano kemudian meluruskan bahwa angka Rp 100 miliar tersebut sama sekali bukan anggaran pembongkaran tiang monorel.
Ia menegaskan, dana itu dialokasikan untuk penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said secara menyeluruh selama satu tahun.
“Rp 100 miliar itu untuk pembenahan Rasuna Said, bukan monorel. Monorel ditebang cuma Rp 254 juta,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Rano juga menceritakan pengalaman unik terkait rencana pembongkaran tiang monorel.
Ia mengaku pernah menerima surat dari komunitas Madura yang menyatakan keinginan untuk terlibat dalam pembongkaran tiang monorel di kawasan HR Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, hingga Senayan, Jakarta Pusat.
Namun, sebelum surat tersebut sempat dibalas, dua tiang monorel justru sudah lebih dulu hilang.
“Mungkin kalau saya cerita enggak percaya. Jadi kita pernah disuratin oleh komunitas Madura ini. Bahwa mereka ingin terlibat di situ (pembongkaran tiang monorel). Belum kita jawab, dua tiang sudah hilang,” ujar Rano.
Rano menuturkan, rencana pembongkaran tiang monorel sebenarnya telah melalui proses diskusi yang cukup panjang.
Pembahasan tersebut berlangsung sekitar tiga bulan sebelum akhirnya dilakukan eksekusi.
Ia mengaku sempat berdiskusi dengan sejumlah pihak terkait kelanjutan proyek monorel yang mangkrak selama lebih dari dua dekade tersebut.
Menurutnya, pembongkaran menjadi pilihan paling realistis.
“Ya sampai kemarin, maaf ya, kemarin kita menebang apa namanya tuh, monorel. Itu sudah tiga bulan yang lalu dia diskusi sama saya,” ucap Rano.
“Bang, gimana nih Bang?’ Saya bilang, ‘Mas, ini kalau kita enggak tebang juga, enggak ada legacy kita ini. Tebang aja. Tapi ini punya Adhi Karya.’ Suratin, kasih waktu,” sambungnya.
Ia menambahkan, keberadaan tiang monorel yang dibiarkan tanpa kejelasan justru membahayakan keselamatan masyarakat.
Bahkan, Rano menyebut sudah ada korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan tiang monorel tersebut.
“Ini sudah 21 tahun enggak diapa-apain, didiamin saja. Sudah tujuh orang meninggal di situ, kecelakaan kena tiang itu,” katanya.
Rano juga mengungkapkan pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso atau Bang Yos yang menegaskan hanya ada dua pilihan terkait nasib tiang monorel.
“Kita hanya punya, makanya Bang Yos cuma bilang ada dua pilihan: mau dilanjutkan atau mau ditebang? Dilanjutkan tidak, ya ditebang,” ujar Rano.
Dalam nada bercanda, Rano mengaku sempat menyarankan agar pembongkaran tiang monorel diserahkan saja kepada komunitas Madura agar Pemprov DKI tidak perlu mengeluarkan anggaran.
“Saya sudah berbisik sama Pak Gub, ‘Pak, Mas, kalau mau kasih sama Madura, dapat duit kita ini.’ Daripada kita keluar duit, udahlah kita borongin sama Madura,” ucap Rano sambil tertawa.
