Aliansi.co, Jakarta- Mantan petinggi Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab angkat bicara terkait polemik pagar laut di Kabupaten Tangerang, Banten.
Ia marah karena pejabat negara tidak jujur dengan pagar laut misterius tersebut.
Dalam tayangan YouTube Pecinta Ulama, Habib Rizieq awalnya mengungkapkan keheranannya terhadap pagar laut sepanjang 30 kilometer yang tengah menjadi sorotan publik akhir-akhir ini.
Ia hakul yakin pagar laut yang menggunakan batang bambu tersebut bukan dibangun oleh nelayan setempat.
“Saudara, itu bangun pagar 30 kilo meter pakai bambu-bambu betung yang panjang-panjang hitung aja dah harganya. Itu miliaran. Nelayan dari mana duitnya? Baru kaya sedikit udah mager laut iyeee,” ujar Rizieq dilansir dari kanal YouTube Pecinta Ulama, Kamis (23/1/2025).
Anehnya lagi, kata Rizieq, para pemangku kepentingan mulai dari tingkat RT hingga presiden, mengaku tidak tahu dengan pemagaran laut tersebut.
Menurutnya, pengakuan pejabat tersebut merupakan tindakan pembodohan kepada rakyatnya.
“Udah gitu anehnya 30 kilo meter laut dipagar dari RT, RW, lurah, camat sampai presiden enggak tahu, iyeee. Lu buta? Kacau tidak? Kacau tidak,” katanya.
“Saya mau tanya, pagar 30 kilo meter tuh pendek apa panjang? Panjang. Sekarang saya mau tanya, di pinggir laut kita ada petugas kita tidak? Pengawas laut ada tidak? Artinya mereka engga tahu? Dia mau bodohin rakyat iyeee,” sambungnya.
Dalam kesempatan itu, Rizieq juga menyentil kinerja menteri terkait yang mendapat gaji besar tapi tidak tahu dengan keberadaan pagar laut.
Dia menduga sejumlah pejabat sudah menerima suap sehingga pura-pura tidak tahu dengan keberadaan pagar laut tersebut.
“Menteri ditanya gak tahu. Ngapain lu jadi menteri? Digaji mahal nggak tahu. Kacau tidak? Kacau tidak,” ujarnya.
“Bukan enggak tahu, tapi udah pada terima sogokan. Dia enggak sangka kalau rakyat marah. Pinggir laut itu milik negara, bukan milik pribadi. Enggak boleh saudara orang main pagar-pagar-pagar laut,” sambungnya.
Rizieq tak percaya dengan pihak-pihak yang menyebut pagar laut tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat.
Dia menganggap alasan tersebut tidak masuk akal.
Ia menilai pemerintah dan pejabat telah membodohi rakyat terkait kasus para laut.
“Pemerintah anggap kita goblok. Menteri anggap kita goblok. DPR anggap kita goblok. Saudara, itu bangun pagar 30 kilo meter pakai bambu-bambu betung yang panjang-panjang, hitung aja dah harganya, itu miliaran,” katanya.
“Nelayan dari mana duitnya? Tiap hari makan ikan asin, ikan segar dia jual. Ikan asin buat di rumah. Jangan ngebodohin rakyat saudara,” sambungnya.
